SERMA SUWASONO MOTIVATOR KB PRIA MAJU TINGKAT NASIONAL

Biodata :
Nama                             : Serma Suwasono
Tempat/ tanggal lahir     : Sleman, 7 Januari 1972
Pekerjaan                      : TNI AD
Alamat Rumah               : Jogokerten RT 05 RW 13, Trimulyo, Sleman
Jumlah Anak                  : 2 (dua)
Jenis Kontrasepsi          : MOP
Mulai menggunakan      : 2012
IMG_20160315_074544Serma Suwasono berhasil mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta untuk maju Lomba Motivator KB Pria Tingkat Nasional. Sebelumnya Bapak Suwasono telah melalui tahap seleksi di tingkat Kabupaten Sleman dan DIY. Seleksi di tingkat Kabupaten Sleman telah dilaksanakan pada 1 maret 2016 bertempat di Aula Badan KBPMPP Kabupaten Sleman. Seleksi tingkat DIY telah dilaksanakan pada 15 Maret 2016 bertempat di Aula Balai Desa Trimulyo. Dalam seleksi tersebut Bapak Suwasono menghadapi beberapa macam evaluasi, diantaranya administrasi, presentasi dan wawancara.
Awal mula keikut sertaan Bapak Suwasono dalam KB Pria adalah ketika diadakan sosialisasi BKKBN DIY di Makodim Sleman pada tahun 2012, kemudian beliau tertarik dengan Metode Operasi Pria (MOP) yang disampaikan terutama tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing alat kontrasepsi. Pada waktu itu istri Bapak Suwasono telah menggunakan KB suntik selama 7 tahun, namun selama menggunakan alkon suntik ternyata berdampak pada kesehatannya seperti datang bulan yang tidak teratur dan sering lemas.
Akhirnya pada tanggal 25 Maret 2012 Bapak Suwasono memutuskan mengikuti program KB pria (MOP) di RS Bethesda Yogyakarta yang disetujui oleh istrinya. Sejak saat itulah beliau berkeinginan untuk memotivasi PUS terutama suaminya untuk mengikuti program KB MOP.
Prestasi yang berhasil diraih :
  1. Juara 3 Motivator KB Pria antar Babinsa se DIY tahun 2013
  2. Juara 2 Motivator KB Pria Tingkat Kabupaten Sleman Tahun 2015
  3. Juara 1 Motivator KB Pria Tingkat Kabupaten Sleman Tahun 2016
  4. Juara 1 Motivator KB Pria Tingkat DIY Tahun 2016
Kegiatan yang dilakukan terkait KB Pria :
  1. Memberikan sosialisasi kepada pamong/ dukuh dalam perkumpulan setiap bulan di Desa, dengan harapan para pamong dapat memberikan dukungan penuh dan menepis tentang anggapan miring KB MOP/ vasektomi
  2. Mengikuti rakor KB Kesehatan di Kecamatan untuk menyampaikan program KB Pria
  3. Mengikuti pertemuan Motivator KB Pria tingkat Kabupaten yang dilaksanakan 2 bulan sekali dengan tempat bergantian di rumah anggota
  4. Mengikuti pertemuan Apsari di Padukuhan sesuai permintaan kader untuk memberikan arahan tentang KB Pria
  5. Memberikan motivasi kepada rekan-rekan sesama TNI yang masih PUS dan sudah tidak ingin menambah momongan lagi supaya ikut KB mantab dengan MOP
Semoga dengan berbagai perjuangan yang telah dilakukan selama ini dapat memberikan hasil terbaik nantinya di tingkat Nasional. Selamat berjuang di tingkat Nasional Bapak Serma Suwasono.

Sosialisasi Perlindungan Anak

IMG_20160328_094733Hari ini (28/3) bertempat di ruang rapat Kecamatan Sleman dilaksanakan kegiatan sosialisasi :

  • UU Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014
  • UU Sistem Peradilan Anak Nomor 11 Tahun 2012
  • Perda Perlindungan Anak Nomor 18 Tahun 2013

Sosialisasi tersebut merupakan kerjasama Pemerintah Kecamatan Sleman dengan Badan KBPMPP Kabupaten Sleman. Peserta yang menghadiri sosialisasi terdiri dari Perangkat Desa, PKK Desa, Tokoh masyarakat, Bidan Desa, dan Karang Taruna.

Inti dari sosialisasi adalah bagaimana peran pemerintah bersama dengan masyarakat untuk mewujudkan perlindungan terhadap anak. Perlindungan anak merupakan segala usaha yang dilakukan untuk menciptakan kondisi agar setiap anak dapat melaksanakan hak dan kewajibannya demi perkembangan dan pertumbuhan anak tersebut secara wajar, baik fisik, mental, maupun sosial. Hal tersebut adalah sebagai perwujudan adanya keadilan dalam suatu masyarakat.

Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera. Sebetulnya usaha perlindungan terhadap anak telah cukup lama dibicarakan baik di Indonesia maupun di dunia internasional.

Penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-Hak Anak meliputi :

  1. non diskriminasi;
  2. kepentingan yang terbaik bagi anak;
  3. hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan
  4. penghargaan terhadap pendapat anak.

Hal lain yang dipaparkan dalam sosilisasi ini adalah UU Sistem Peradilan Anak Nomor 11 Tahun 2012. UU SPPA mendefenisikan anak di bawah umur sebagai anak yang telah berumur 12 tahun tetapi belum berumur 18 tahun, dan membedakan anak yang terlibat dalam suatu tindak pidana dalam tiga kategori:

  1. Anak yang menjadi pelaku tindak pidana;
  2. Anak yang menjadi korban tindak pidana (Anak Korban) ; dan
  3. Anak yang menjadi saksi tindak pidana (Anak Saksi)

Sebelumnya, UU Pengadilan Anak tidak membedakan kategori Anak Korban dan Anak Saksi. Konsekuensinya, Anak Korban dan Anak Saksi tidak mendapatkan perlindungan hukum. Hal ini mengakibatkan banyak tindak pidana yang tidak terselesaikan atau bahkan tidak dilaporkan karena anak cenderung ketakutan menghadapi sistem peradilan pidana.

Menurut UU SPPA, seorang pelaku tindak pidana anak dapat dikenakan dua jenis sanksi, yaitu tindakan, bagi pelaku tindak pidana yang berumur di bawah 14 tahun dan Pidana, bagi pelaku tindak pidana yang berumur 15 tahun ke atas.

Sanksi Tindakan yang dapat dikenakan kepada anak meliputi :

  • Pengembalian kepada orang tua/Wali;
  • Penyerahan kepada seseorang;
  • Perawatan di rumah sakit jiwa;
  • Perawatan di LPKS;
  • Kewajiban mengikuti pendidikan formal dan/atau pelatihan yang diadakan oleh pemerintah atau badan swasta;
  • Pencabutan surat izin mengemudi; dan/atau
  • Perbaikan akibat tindak pidana.

Mari ber-Biopori

Beberapa waktu yang lalu wilayah kita dilanda kemarau cukup panjang yang mengakibatkan sumber-sumber air banyak yang mengering. Saat ini ketika musim hujan banyak air yang hanya mengalir terbuang saja di sekitar rumah. Kita perlu mengantisipasi akan datangnya musim kemarau dengan memanfaatkan air hujan yang pada saat ini masih sering turun. Salah satu cara pemanfaatan air hujan sebagai cadangan air tanah di musim kemarau adalah dengan pembuatan biopori.
Perlu kita ketahui apakah biopori itu?? Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Metode ini dicetuskan oleh Dr. Kamir Raziudin Brata, salah satu peneliti dari Institut Pertanian Bogor.
Biopori mampu meningkatkan kemampuan daya serap tanah terhadap air. Peningkatan daya resap air pada tanah dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah. Selain itu, kompos dalam lubang ini dapat diambil untuk kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.
Cara membuat bipori pada umumnya menggunakan peralatan khusus yaitu bor tanah yang dioperasikan secara manual, namun dengan ketelatenan juga dapat mempergunakan linggis. Lubang biopori dibuat dengan lebar 10-30 cm dan kedalaman 80-100 cm yang dapat mengoptimalkan kinerja organisme pengurai di dalam tanah. Setelah lubang dibuat kemudian dimasukkan dedaunan atau sampah organik yang lain dan diberikan tutup berlubang di atasnya.

Syarat Pendaftaran Jamkesda

Syarat-syarat untuk mengurus Kartu Jamkesda Mandiri di UPT JPKM dapat dilakukan sebagai berikut :

  1. Datang Langsung ke Kantor JAMKESDA  dapat dilakukan setiap hari kerja di Kantor JPKM (Senin-Kamis jam 07.30 – 13.00, Jumat jam 07.30 – 10.30 dan Sabtu jam 07.30 – 12.00) sedangkan kantornya yaitu di Jalan kalimantan gang Ambalat No. 1 Dusun Purwosari Desa Sinduadi Mlati Sleman, nomor telepon 71112
  2. Mengisi Formulir dilampiri :
    ~ Pas Foto Uk. 2×3 2 lembar
    ~ Fotocopy KTP yang masih berlaku
    ~ Fotocopy Kartu Keluarga/C1
    ~ Membayar Rp. 120.000,-/orang/tahun
    ~ Biaya Kartu Rp. 1.000,-/peserta

Bedah Buku

Akan diselenggarakan kegiatan Bedah Buku dengan Judul “Kembali kepada Al Qur’an dan Al-Hadits” Karya A.R. Fakhruddin (Ketua Muhammadiyah periode 1968-1990). Kegiatan tersebut akan diselenggarakan pada :
Hari, tanggal       : Ahad, 17 Jumadil akhir 1436 H/ 27 maret 2016 M
Jam                     : 08.00-10.00 WIB
Tempat                : Masjid Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Sleman
                              Temulawak, Triharjo, Sleman
Pemateri             : Ustadz dr. Muhammad Arifudin, SpOT

Earth Hour

Masyarakat DIY dihimbau berpartisipasi dalam gerakan earth our dengan mematikan lampu dan peralatan elektronik sebagai simbol kepedulian lingkungan. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran Gubernur DIY nomor: 660/2435 tanggal 18 Maret 2016. Gerakan earth our secara serentak akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 19 Maret 2016 jam 20.30-21.30 WIB.

IMG-20160319-WA0001

Rekap Hasil PSN Awal Tahun 2016

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit febris akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotype virus dari genus flavirus, Famili Flavivirdae. Setiap serotype cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotype dapat terjadi.
Pengendalian DBD tidak hanya dapat dilakukan dengan tindakan kuratif tetapi harus di dukung kegiatan preventif dan promotif. Pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pemantauan jentik berkala merupakan salah satu cara preventif yang cukup baik untui memonitoring keberadaan larva Aedes sp yang merupakan vector DBD.
Salah satu indikator pemukiman yang sehat adalah angka bebas jentik yang di atas 95 %. Hal ini dapat tercapai apabila didukung oleh seluruh komponen masyarakat. Peran Pokjanal DBD Kecamatan Sleman dalam hal ini hanya sebagai fasilitatordan motivator, sehingga masyarakat yang harus aktif menciptakan lingkungan sehat di sekitar mereka.
Di Kecamatan Sleman jumlah kasus DBD tahun 2015 sebanyak 28 kasus, kemudian pada tahun 2016 sampai dengan bulan Februari 2016 terjadi peningkatan kasus DBD yaitu sejumlah 8 kasus. Angka bebas jentik tahun 2015 sebesar 94 %, sedangkan tahun 2016 sampai bulan Februari sebesar 85 %.
Proses pelaksanaan kegiatan PSN di Kecamatan Sleman sebagai berikut :
  1. Tim Pokjanak DBD beserta Perangkat Desa dan Kader Kesehaatan siap di loaksi jam 08.00 WIB
  2. Koordinator pelaksana membagi petugas monitoring Jumat bersih, membentuk tim-tim kecil
  3. Masing-masing tim menyiapkan peralatan yang akan digunakan
  4. Tim-tim kecil melakukan survey jentik, di dalam dan di luar rumah sesuai dengan tempat-tempat yang kemungkinan menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes sp
  5. Setelah selesai Tim pelaksana kembali ke posko melaporkan hasil survey dan melakukan rekapitulasi data hasil survey
  6. Koordinator pelaksana melaporkan hasil survey kepada Tim Pokjanal DBD Kecamatan Sleman untuk rencana tindaklanjut
  7. Tim pelaksana mengembalikan peralatan sesuai tempatnya
Unsur-unsur tim pelaksana pemantauan jentik :
  1. Petugas Kecamatan
  2. Petugas Puskesmas
  3. Petugas Polsek
  4. Petugas Koramil
  5. Anggota PKK
  6. Perangkat Desa
  7. Kader Kesehatan Desa
  8. Anggota masyarakat lain
Berikut ini hasil Gerakan Jumat Bersih dalam rangka Monitoring PSN Penyakit DBD Kecamatan Sleman Tahun 2016 :
Lokasi Kegiatan
:
Padukuhan Ngemplak Caban, Tridadi, Sleman
Tanggal Pelaksanaan
:
5 Februari 2016
Rumah di Monitoring
:
124 Rumah
Jumlah Container
:
188 container
Rumah Positif Jentik
:
18 rumah
Container Indek (CI)
:
10 %
Angka Bebas Jentik (ABJ)
:
84 %
Masalah Lingkungan
:
Sampah rumah tangga belum terkelola dengan baik
Lokasi Kegiatan
:
Padukuhan Karangasem, Pandowoharjo, Sleman
Tanggal Pelaksanaan
:
5 Februari 2016
Rumah di Monitoring
:
65 Rumah
Jumlah Container
:
99 container
Rumah Positif Jentik
:
8 rumah
Container Indek (CI)
:
8 %
Angka Bebas Jentik (ABJ)
:
88 %
Masalah Lingkungan
:
Sampah rumah tangga belum terkelola dengan baik; Masih ada rumah yang tidak ada SPAL
Lokasi Kegiatan
:
Padukuhan Ngangkrik, Triharjo, Sleman
Tanggal Pelaksanaan
:
12 Februari 2016
Rumah di Monitoring
:
90 Rumah
Jumlah Container
:
200 container
Rumah Positif Jentik
:
20 rumah
Container Indek (CI)
:
9 %
Angka Bebas Jentik (ABJ)
:
78 %
Masalah Lingkungan
:
Sampah rumah tangga belum terkelola dengan baik; SPAL belum terkelola dengan baik
Lokasi Kegiatan
:
Padukuhan Sanggrahan, Caturharjo, Sleman
Tanggal Pelaksanaan
:
19 Februari 2016
Rumah di Monitoring
:
91 Rumah
Jumlah Container
:
113 container
Rumah Positif Jentik
:
23 rumah
Container Indek (CI)
:
14 %
Angka Bebas Jentik (ABJ)
:
80 %
Masalah Lingkungan
:
Sampah rumah tangga belum terkelola dengan baik; Masih ada kandang ternak (sapi) jadi satu dengan pemukiman; SPAL belum terkelola dengan baik
Lokasi Kegiatan
:
Padukuhan Mantaran, Trimulyo, Sleman
Tanggal Pelaksanaan
:
26 Februari 2016
Rumah di Monitoring
:
86 Rumah
Jumlah Container
:
200 container
Rumah Positif Jentik
:
7 rumah
Container Indek (CI)
:
3,5 %
Angka Bebas Jentik (ABJ)
:
91,86 %
Masalah Lingkungan
:
Warga masih belum peduli dengan sampah rumah tangga; Masih ada warga yang kandang ternaknya berdekatan dengan sarana air bersih (sumur)
Lokasi Kegiatan
:
Institusi Perkantoran Kabupaten Sleman
Tanggal Pelaksanaan
:
4 Maret 2016
Kantor di Monitoring
:
48 Kantor
Jumlah Container
:
478 container
Kantor Positif Jentik
:
14 Kantor
Container Indek (CI)
:
3,3 %
Angka Bebas Jentik (ABJ)
:
70,8 %
Masalah Lingkungan
:
Masih ditemukan jentik pada air mancur mini di dalam ruangan institusi; Masih ditemukan jentik di tampungan tetesan dispenser; Masih ditemukan jentik di tumpukan ban bekas institusi; Masih ditemukan jentik pada tutup dan tempat sampah institusi
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan monitoring Jumat Bersih Pokjanal DBD Kecamatan Sleman yang dilakukan di 5 desa (Tridadi, Pandowoharjo, Triharjo, Caturharjo, Trimulyo) dan institusi perkantoran Kabupaten Sleman pada putaran pertama tahun 2016 di 6 lokasi yang dipantau jentik aedes sp, hasil container indek 7 %, Angka Bebas Jentik (ABJ) 82 %, maka angka tersebut masih jauh dari harapan Angka Bebas Jentik ≥ 95 %.