KEBIJAKAN JAMINAN KESEHATAN KABUPATEN SLEMAN

  • hKEBIJAKAN JAMINAN KESEHATAN
KABUPATEN SLEMAN
Kebijakan Pemerintah
  • Jaminan kesehatan pemerintah dilaksanakan dalam satu Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU No. 40/2004)
  • Kewenangan menyelenggarakan Jaminan Kesehatan Nasioanal (JKN) hanya diberikan kepada BPJS Kesehatan (UU No. 24/2011)
  • Semua penduduk Indonesia sudah harus menjadi peserta JKN paling lambat 1 Januari 2019 (Perpres No. 12 & No. 111 thn 2013)
  • Bupati/walikota diminta segera mengintegrasikan Jamkesda ke SJSN yang diselenggarakan BPJS Kesehatan (SE Mendagri No. 440/3890/SJ)
Kebijakan Pemkab Sleman
(Dasar: Perbup No 110/2016 ttg Pelaks. Perda Kab. Seman No. 11/2010 ttg Jamkesda dlm Sistem JKN)
A. Mengalihkan peserta Jamkesda menjadi peserta JKN di BPJS Kesehatan:
  • Miskin/Rentan Miskin
  • Peserta karena penghargaan atas peran dan jasa yang bersangkutan (Linmas, Kader, Pol PP, Perangkat Desa, dll)
  • Mandiri
B. Mendaftarkan penduduk Sleman Non-Jamkesda untuk menjadi peserta JKN di BPJS Kesehatan
  • Miskin/Rentan Miskin
  • Peserta karena penghargaan atas peran dan jasa yang bersangkutan (Linmas, Kader, Pol PP, Perangkat Desa, dll)
C. Iuran JKN dibayarkan Pemkab Sleman untuk kelas III:
  • Secara periodik & berkelanjutan bagi miskin/rentan miskin/penghargaan
  • Selama kepesertaan Jamkesda aktif bagi peserta mandiri
D. Peserta Jamkesda yg belum bisa diintegrasikan ke JKN, dialihkan ke program lain yg sejenis:
  • Jaring Pengaman Sosial
  • Bapel Jamkesos (khusus miskin/rentan miskin)
E. Pendaftaran & pelayanan kesehatan peserta Jamkesda Mandiri ditutup per 31 Des. 2016
Pelaksanaan Integrasi
(Dasar: PKS Dinas Kesehatan – BPJS Kesehatan Sleman)
  • Data peserta berbasis NIK
  • Kuota 64.931 peserta PBI (miskin/rentan miskin) & 50.250 PBPU (non miskin)
  • Sudah terisi 52.083 PBI & 36.053 PBPU (SK Bupati)
  • Kekurangan peserta akan diisi lewat mekanisme tambah-kurang setiap bulan melalui UPT JPKM:
  • Maks tgl 15 diusulkan ke BPJS (PBPU)
  • Maks tgl 25 diusulkan ke BPJS (PBI)
Masalah Integrasi
  • Kesalahan NIK
  • NIK sama untuk individu yg berbeda (NIK ganda)
  • Kepesertaan Jamkesda ganda (miskin-mandiri)
  • Peserta miskin terlanjur terdaftar sbg peserta JKN Mandiri dan punya tunggakan iuran
  • Penempatan faskes oleh BPJS tidak sesuai domisili
  • Peraturan BPJS yang dirasa terlalu kaku

 
Pemecahan masalah
  • Sosialisasi lintas sektor, lintas program dan masyarakat
  • Koordinasi lintas sektor dan lintas program
  • Mengusulkan pindah Faskes yang sesuai domisili ke BPJS kesehatan
  • Mekaniske tambah kurang mlalui Dinas Sosial Kabupaten Sleman
  • Warga miskin dan rentan miskin yang belum terdaftar diikutkan program Jaring Pengaman Sosial (Dinas Sosial Kabupaten Sleman)
  • Ibu hamil miskin dan tidak punya penjaminan diikutkan program Jaminan Persalinan (DAK NON FISIK 2017)

Data Keagamaan

Jumlah Masjid
:
122 buah
Jumlah Mushola/ Langgar
:
55 buah
Jumlah Gereja Kristen
:
3 buah
Jumah Gereja Katholik
:
9 buah
Jumlah Kapel
:
1 buah
Jumlah Pondok Pesantren
:
15 buah
Jumlah Kyai/ Ustadz
:
57 orang
Jumlah Santri
:
1.050 orang
Jumlah TPA/TPQ
:
122 buah
Jumlah Majelis Taklim
:
21 buah
Jumlah Jamaah
:
1.110 orang
Jumlah Muktamir
:
122 orang
Jumlah Kumpulan Pengajian Umum
:
116 buah

Tuberkololosis Paru (TBC Paru)

Tuberkololosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tubercolosis. Penyakit ini sudah ada sejak jaman dahulu. Saat ini di Indonesia jumlah kematian akibat penyakit TBC masih cukup tinggi sekitar 100.000 orang per tahun.
Kuman TBC dapat menyerang banyak organ tubuh yaitu :
  • Paru (organ yang paling banyak diserang)
  • Selaput otak
  • Kelenjar limfe
  • Tulang
  • Kulit
Penularan
  • Secara langsung melalui udara sewaktu penderita batuk, bersin, atau berbicara
  • Secara tidak langsung melalui dahak dan ludah penderita TBC. Ketika dahak dan ludah mengering, kuman TBC terbawa angin dan terhirup orang lain. Kuman selanjutnya masuk ke dalam tubuh dan bersarang di dalamnya, paling sering di paru-paru namun bisa juga di organ lain seperti tulang, usus, selaput otak, kulit.
Apakah setiap orang yang tertular pasti sakit ?
Tidak selalu. Ada 2 keadaan yang mungkin terjadi pada mereka yang terinfeksi TBC :
  • Jika daya tahan tubuh kuat, kuman tidak berkembang biak melainkan menjadi tidak aktif (“tidur”), yang disebut infeksi TB laten
  • Sebaliknya jika daya tahan tubuh lemah (gizi kurang, lansia, balita, kondisi tertentu : DM, HIV/AIDS) resiko untuk menderita TBC semakin besar.
Gejal Penderita TBC Paru
Gejala Pokok :
  • Batuk berdahak selama 2 minggu/ lebih
Gejala Tambahan :
  • Demam meriang sebulan lebih
  • Sesak nafas dan nyeri dada
  • Berkeringat pada malam hari tanpa kegiatan
  • Pernah mengeluarkan dahak bercampur darah
  • Nafsu makan dan berat badan turun
Pemeriksaan yang harus dilakukan untuk mendiagnosa TBC  :
  • Periksa dahak 3 kali yaitu : Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS)
  • Foto rontgen paru
Pengobatan TBC :
  • Minum obat anti TBC minimal 6 (enam) bulan, dengan didampingi PMO (Pengawas Menelan Obat). Penderita TBC perlu mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang, istirahat cukup, tidak mengkonsumsi minuman beralkohol dan tidak merokok.
Cara Mencegah Penularan TBC
  • Jika penderita batuk, tutuplah mulut dengan sapu tangan bersih (setelah dipakai sapu tangan direndam dengan air sabun)
  • Jangan membuang dahak di sembarang tempat, tampunglah di dalam kaleng/ember yang telah diisi Lysol 5% atau ai sabun.
  • Penderita sebaiknya tidur di kamar terpisah dari anggota keluarga yang lain (terutama untuk 2 bulan pertama pengobatan)
  • Rumah mendapat penerangan alami dari sinar matahari yang masuk melalui jendela atau genting kaca untuk mematikan kuman TBC dan pertukaran udara dapat lancar sehingga jumlah kuman yag ada dalam rumah berkurang.
  • Bayi harus diberikan imunisasi BCG agar lebih kebal terhadap kuman TBC.
Contoh pengobatan TBC Tidak Benar
  • Minum salah satu jenis obat saja
  • Minum obat kurang dari jumlah yang ditetapkan
  • Sering lupa/ tidak minum obat
  • Berhenti minum obat sebelum selesai pengobatan/ obat habis

Sekilas Tentang Program Keluarga Harapan Tahun 2017

Program Keluarga harapan (PKH) adalah program yang memberikan bantuan non tunai bersyarat kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang memenuhi kriteria tertentu.

Manfaat Bantuan

Bantuan yang diberikan kepada KPM yang mengikuti program ini adalah berupa bantuan non tunai sesuai ketentuan yang berlaku. Bantuan sosial non tunai PKH diharapkan dapat mengurangi beban pengeluaran KPM dalam jangka pendek dan memutus rantai kemiskinan dalam jangka panjang, serta dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial anggota keluarga KPM peserta PKH.

Penerima PKH

  • Ibu hamil, maksimal kehamilan ketiga
  • Anak usia di bawah 6 tahun
  • Anak sekolah jenjang pendidikan SD, SMP, SMA
  • Lansia 70 tahun ke atas
  • Penyandang disabilitas berat (cacat berat)

Kewajiban Peserta PKH

  1. Ibu Hamil
  • Pemeriksaan kehamilan sebanyak 4 kali selama kehamilan di faskes
  • Melahirkan oleh tenaga kesehatan di faskes
  • Pemeriksaan kesehatan 2 kali sebelum bayi 2 bulan
  1. Anak Usia di bawah 6 tahun
  • Melakukan imunisasi di faskes
  • Pemeriksaan berat badan setiap bulan di Posyandu balita/ faskes yang tersedia, serta mendapatkan vitamin A
  1. Anak Sekolah
  • Terdaftar di sekolah/ kesetaraan dengan minimal kehadiran 85% di kelas
  1. Lansia 70 tahun ke atas
  • Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan atau pemeriksaan di Posyandu Lansia
  1. Penyandang Disabilitas Berat
  • Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan melalui kunjungan rumah

Sanksi Peserta PKH

Anggota Rumah Tangga
Tidak Memenuhi Kriteria
Ket
1 bulan
2 bulan
3 bulan
Seluruh
10%
10%
10%
100%
Sebagian/ Tanggung Renteng
10%
10%
10%
30%
Ket :
Bagi peserta PKH yang berturut-turut tidak memenuhi komitmen seluruhnya maka bantuan tidak diberikan, tetapi status kepesertaannya masih tetap
Bagi peserta PKH yang sebagian AK (anggota keluarga) tidak memenuhi komitmen maka bantuan dikurangi sebesar 10% setiap bulan dari bantuan pertahap

Verifikasi Komitmen

Peserta PKH akan diverifikasi terkait dengan kewajiban yang dilakukan sesuai komponennya. Verifikasi komitmen peserta PKH dilaksanakan setiap bulan. Hasil verifikasi komitmen menjadi dasar penyaluran bantuan yang diterima peserta PKH.

Ketentuan Bantuan PKH

  • Bantuan tetap sebagaiman SK Menteri Sosial Nomor 23/HUK/2016 berlaku dalam 1 tahun
  • Bantuan komponen peserta PKH diberikan kepada maksimal 3 anggota keluarga sesuai kriteria kepesertaan
  • Bantuan komponen peserta PKH diberikan dengan jumlah nominal terbesar dari komponen kepesertaan

***BANTUAN SOSIAL NON TUNAI PKH DIBAYARKAN 3 BULAN SEKALI***

Strategi Penanggulangan Bencana

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.

Logistik adalah segala sesuatu yang berujud dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia yang terdiri atas sandang, pangan dan papan atau turunannya. Termasuk dalam kategori logistik adalah barang yang habis pakai atau dikonsumsi, misalnya: sembako (sembilan bahan pokok), obat obatan, pakaian dan kelengkapannya, air, tenda, jas tidur dan sebagainya.

 Prinsip Penanggulangan Bencana :

  • Pengurangan Total Risiko Pada Aset Penghidupan
  • Prinsip Kehati-Hatian Pada Setiap Tahapan
  • Diterapkan Secara Utuh, Terpadu Dan Berlanjut
  • Berorientasi Pada Komunitas

Manajemen Bencana :

Seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana. Dirancang untuk memberikan kerangka kerja bagi orang-perorangan atau komunitas yang berisiko terkena bencana untuk menghindari, mengendalikan risiko, mengurangi, menanggulangi maupun memulihkan diri dari dampak bencana

Mitigasi :

Upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana

Bentuk Mitigasi :

  • mitigasi struktural (membuat bangunan tahan gempa, penahan air laut, tanggul sungai dll.)
  • mitigasi non struktural (peraturan, tataruang, pelatihan dan penguatan kapasitas masyarakat dan pemerintah

Kesiapsiagaan :

Upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana, melalui pengorganisasian langkah-langkah yang tepat, efektif dan siap siaga. Misalnya : Penyiapan sarana komunikasi, pos komando dan penyiapan lokasi evakuasi, pusat informasi, pemasangan alat peringatan dini.

Peringatan Dini :

Upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa bencana kemungkinan akan segera terjadi.

Pemberian Peringatan Dini Harus :

  • Menjangkau Masyarakat (Accesible)
  • Segera (Immediate)
  • Tegas Tidak Membingungkan (Coherent)
  • Bersifat Resmi (Official)

Tanggap Darurat :

Upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian serta memberikan bantuan darurat (pangan, sandang, papan, kesehatan, air & sanitasi).

Pemulihan :

Proses pemulihan kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada keadaan semula. Pemulihan dilakukan dengan cara merehabilitasi dan merekontruksi. Contoh upaya yang dilakukan adalah : memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air bersih, pasar puskesmas, dll).

Rehabilitasi:  Upaya langkah yang diambil setelah kejadian bencana untuk membantu masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan fasilitas sosial penting, dan menghidupkan kembali roda perekonomian.

Rekonstruksi: Program jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan kembali aset fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan  kehidupan masyarakat pada kondisi yang lebih baik dari sebelumnya

Klaster Utama Dinas Sosial Dalam Penanggulangan Bencana

  • Klaster Logistik dan Dapur Umum
  • Klaster Shelter dan Penanganan Pengungsi
  • Klaster Psikososial
  • Klaster Pendamping Sosial

Bantuan Bagi Korban Bencana

  1. Pemenuhan Kebutuhan Dasar
    • Permakanan (beras, lauk pauk, makanan siap saji, mie instan, makanan tambahan, droping air bersih)
    • Sandang (pakaian, selimut, sarung)
    • Papan (bahan bangunan rumah, tenda gulung/ terpal)
  2. Perlindungan Sosial
    • Biaya Jaminan Hidup
    • Santunan Kematian
    • Pemulangan dan Pemakaman Orang Terlantar
    • Bantuan Usaha Ekonomi Produktif

POSKO TAGANA DIY

  • Posko TAGANA DIY di Jalan Menur 6, Baciro, Yk (Telp dan Faks 0274-550554)
  • Posko TAGANA GK di Komplek Kampus UGK (Telp. 0274 392003)
  • Posko TAGANA Bantul di Komplek Dinsos Bantul
  • Posko TAGANA Kota Yk di Jalan Batikan, Umbulharjo, Yk
  • Posko TAGANA KP di Komplek Dinsos KP (Telp.0274-774972)
  • Posko TAGANA Sleman di Beran (Telp. 085101618762)

ALUR PERMINTAAN BANTUAN BENCANA ALAM

mekanisme bantuan beras

Instruksi Gubernur DIY No. 5 Tahun 1997 Tentang GPPA

Keputusan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 128 / 44 A Tahun 1982, telah memerintahkan untuk meningkatkan upaya baca tulis Al Qur’an dalam rangka pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari bagi umat Islam. Untuk mengintensifkan usaha pemahaman dan pengamalan isi kandungan Al Qur’an tersebut, Gubernur DIY telah mengeluarkan Instruksi No. 5 Tahun 1997 tentang Gerakan Pemahaman dan Pengamalan Isi Kandungan Al Qur’an (GPPA) bagi umat Islam di Daerah Istimewa Yogyakarta.

  1. Proses Lahirnya Instruksi Gubernur DIY No. 5 Tahun 1997

Secara singkat sebagai berikut :

  1. MTQ, STQ, TKA, TPA yang berkembang di masyarakat asih fokus kepada membaca Al Qur’an, belum sampai pada pemahaman dan pengamalannya.
  2. Pada pembukaan MTQ Tingkat Propinsi DIY pada Maret 1997, di Wates, Gubernur DIY mencanangkan adanya Gerakan Pemahaman dan Pengamalan Isi Kandungan Al Qur’an (GPPA).
  3. Mengacu dan mendasarkan pencanangan GPPA tersebut, maka Kepala Bidang Penerangan Agama Islam Kanwil Departemen Agama Propinsi melakukan lobby dan pendekatan kepada Pemda DIY untuk dapat mengeluarkan Instruksi Gubernur sebagai tindak lanjut pidato pembukaan Gubernur pada pembukaan MTQ, 4 Maret 1997 di Wates Kulon Progo. Akhirnya lahirlah Instruksi Gubernur DIY No. 5 Tahun 1997.

  1. Isi Instruksi Gubernur DIY No. 5 Tahun 1997

Instruksi tersebut ditujukan kepada :

  1. Kepala Kanwil Dep. Agama Prop. DIY untuk menyusun program dan petunjuk pelaksanaan GPPA bagi umat Islam di DIY.
  2. Kepada Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II se propinsi DIY untuk :
  3. Memerintahkan kepada Camat/Kepala Desa/Keurahan di wilayahnya masing-masing untuk :
  • Membentuk Majelis Pengajian Al Qur’an (MPA) dan Majelis Bimbingan Ibadah (MBI) yang dapat menjangkau seluruh umat Islam yang ada di wilayahnya.
  • Membina Majelis Pengajian Al Qur’an dan Majelis Bimbingan Ibadah tersebut sehingga dapat melaksanakan program Gerakan Pemahaman dan Pengamalan Isi Kandungan Al Qur’an.
  1. Mengkoordinasikan pelaksanaan program Gerakan Pemahaman dan Pengamalan Isi Kandungan Al Qur’an dengan lembaga dan instansi terkait.
  2. Melaporkan pelaksanaan instruksi ini kepada Gubernur DIY.

  1. Program GPPA : Program MUI DIY

Pada akhir tahun 2005 dan diteruskan pada awal 2006, dengan prakarsa MUI DIY mencoba mengangkat Instruksi Gubernur ini, dengan mengajukan alokasi anggaran dari APBD Propinsi DIY, dengan menetapkan strategi GPPA sebagai berikut :

  1. Pelaksanaan program GPPA, tersebut berpangkalan/ berbasis di masjid dan keluarga, yang bersifat bottom up (tumbuh dari bawah) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
  2. Pendataan jumlah masjid yang ada di masing-masing wilayah (Propinsi, Kab/Kota, Kecamatan dan Desa).
  3. Pendataan lingkungan masjid menjadi suatu “Peta Dakwah Wilayah Masjid”
  4. Menghimpun kader masjid, sebagai Jamaah Inti Masjid sebanyak 10-20 orang, yang diharapkan menjadi umat pilihan (Khairu Ummah), sebagaimana tersebut dalam Surat Ali Imran : 110), sebagai Majelis Pengajian Al Qur’an (MPA) dan Majelis Bimbingan Ibadah (MBI) yang bertugas memahami, meghayati, mengamalkan dan mendakwahkan isi kandungan Al Qur’an kepada masyarakat beriman dan bertaqwa atau masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
  5. Setiap keluarga/rumah tabngga muslim, dimantapkan statusnya dengan dipasangi stiker “keluarga Muslim, Baity Jannaty” sebagai usaha pemagaran/ perlindungan kepada setiap keluarga muslim untuk tidak diusik oleh umat beragama lain.
  6. Kegiatan penunjang yang bersifat top down (perencanaan dan kegiatan dari atas) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
  7. Menentukan jenis program kegiatan untuk pelaksanaan GPPA ini meliputi :
  • Pembinaan organisasi pelaksanaan dan pengendali
  • Pengadaan sarana dan prasarana kegiatan dan pelatihan
  • Pelatihan pelatih (TOT), yang diharapkan hasilnya dapat melatih ustadz/ustadzah dan dai/daiyah yang ada di setiap masjid
  • Pelatihan ustadz/ustadzah atau dai/daiyah
  • Kegiatan operasional GPPA kepada masyarakat lingkungan masjid oleh ustadz/ustadzah dan dai/daiyah
  1. Pembentukan organisasi pelaksana dan pengendali yang berupa “Jaringan Kerja Pelaksana Program GPPA” di Propinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa, yang terdiri atas gabungan unsur Pemerintah dan Lembaga Swadaya masyarakat.
  2. Mengusahakan dana operasional dari APBD Propinsi maupun Kabupaten/ Kota setiap tahun anggaran, sesuai dengan kemampuan yang ada untuk membiayai 5 program tersebut. Alokasi anggaran APBD Kabupaten/ Kota diharapkan untuk mebiayai kegiatan operasional GPPA kepada masyarakat lingkungan masjid oleh ustadz/ ustadzah dan dai/daiyah
  3. Penetapan program prioritas pelaksanaan Instruksi Gubernur DI Yogyakarta tentang GPPA “Gerakan Dakwah Berbasis Masjid dan keluarga, membina akhlakul karimah, mencegah kemaksiyatan dan paham menyesatkan, membangun masyarakat madani beriman dan bertaqwa”. Program GPPA ini kemudian dalam Musda MUI VI MUI DIY tahun 2006 ditetapkan sebagai program unggulan MUI DI Yogyakarta, yang selanjutnya selalu menjadi tema setiap Rakerda MUI setiap tahun, karena program tersebut sangat komprehensif/ menyeluruh baik (1) pelaksana (2) metode (3) sasaran (4) media dan (5) tujuan akhir yang akan diwujudkan

Artikel : MENGHINDARI PERCERAIAN

MENGHINDARI PERCERAIAN
(Seri Ketahanan Keluarga)
Oleh : Nasrodin Sugiyanto, S.Ag, M.Si
Disampaikan dalam Penyuluhan Keluarga Sakinah di Balai Desa Tridadi, Sleman

 

Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW yang akan mendapat pahala jika kita melakukannya. Sebaliknya bila kita memutuskan untuk mengakhiri pernikahan maka perceraian sendiri adalah suatu hal yang halal untuk dilakukan. Jikalau sepasang suami istri melakukan perceraian, itu akan menggoncangkan ‘Arsy sebegitu dahsyatnya. Oleh karena hal tersebut, Allah membenci perceraian, meski telah dikatakan bahwa hal ini adalah halal. Jagalah keutuhan keluarga.

Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atauk kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban anak-anak mereka. Banyak negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan pasangan itu dapat diminta maju pengadilan.

Gejala rusaknya sebuah keluarga bisa ditengarai antara lain :

  1. Sering terjadi percekcokan/ pertengkaran
  2. Suami atau istri pergi tanpa berita
  3. Suami atau istri tidak tidur di rumah sendiri
  4. Suami atau istri selingkuh
  5. Suami atau istri sering curhat pada orang lain tentang kejelekan pasangannya
  6. Suami atau istri melakukan kegiatan di luar tanpa diketahui pasangannya

Untuk mensikapi hal-hal di atas ada tiga tindakan :

  1. Mendatangi rumahnya bertemu keduanya dan bantu cari solusi persoalannya
  2. Memanggil keduanya ke kantor dan bantu cari solusi persoalannya
  3. Melaporkan ke pihak yang bisa membantu menangani persoalannya

Diantara hal-hal yang kita kaji dari sebuah keluarga adalah kenapa gejala-gejala perceraian itu terjadi. Ada yang tidak beres dalam keluarga itu dan harus diperbaiki. Harus dicek dan diingatkan kembali tentang niat dan tujuan pernikahan mereka, kepastian hukum pernikahan mereka, kematangan jiwa dan raga mereka, dasar keagamaan dan pendidikan mereka, pelaksanaan hak dan kewajiban sebagai suami atau istri.

  1. Niat dan Tujuan

Tidak punya tujuan karena terpaksa atau dipaksa menikah, karena hamil, dijodohkan. Tujuan yang salah. Ingin menyakiti atau menyengsarakan, membuat penderitaan karena balas dendam. Menikah hanya sementara untuk mencari kesenangan sesaat.

  1. Kepastian Hukum

Dalam prakteknya kita sering menerima konsultasi keluarga yang meskipun telah lama hidup bersama dan beranak pinak, ternyata mereka tidak dicatatkan pernikahannya secara peraturan yang berlaku. Salah satu pihak berbuat semaunya tanpa rasa takut akan hukuman.

  1. Kematangan Jiwa dan Raga

Pernikahan pada usia dini dan bawah umur sangat rentan perceraian karena kematangan jiwa dan sikap mental yangmasih rendah. Mereka masih memuja kesenangan tanpa bisa menghadapi persoalan dalam kehidupan keluarga mereka.

  1. Hak dan Kewajiban Suami Istri
  • Suami tidak memberikan nafkah untuk kebutuhan belanja keluarga.
  • Suami atau istri terlalu menghamburkan keluarga.
  • Suami atau istri tidak memberikan pelayanan kebutuhan biologis.
  • Suami tidak memberikan perlindungan, bimbingan, pendidikan agama dan teladan yang baik.
  • Istri menuntut pemberian nafkah di luar kemampuan suami.
  • Istri tidak taat berbakti kepada suami lahir dan batin.
  • Istri tidak bisa mengatur urusan rumah tangga dengan baik.

Bila kita telah mengetahui hasil kajian terhadap persoalan pokok dari keluarga maka dilakukan tindak lanjut untuk menyelesaikannya. Dengan melihat apa persoalannya, bila niat dan tujuan yang salah maka harus diprogram ulang. Bila tentang kepastian hukum bantu supaya ada kepastian hukum. Bila kematangan jiwa rendah maka diberikan pencerahan pendidikan dan pelatihan. Bila tentang hak dan kewajiban suami-istri maka perlu difahamkan dan dilaksanakan.

Kita harus bekerja pada fase-fasenya, yaitu sebelum masuk membentuk bahtera keluarga dan sesudah membangun dan melestarikan keluarga. Fase sebelum pembentukan keluarga adalah pembinaan kepada usia remaja dan usia menikah tentang keluarga dan persoalannya. Fase setelah terbentuk keluarga adalah pembinaan pendidikan dan pelatihan, konsultasi dan penasehatan perkawinan dan keluarga.

Kita bertindak dan berperan bisa sebagai tim khusus atau di luar tim, sesuai dengan profesi dan kedudukan kita masing-masing. Sebagai kepala keluarga kita bina dan jaga keluarga kita. Jadilah idola dan teladan buat anak-anak kita. Tanamkan kedekatan kepada Tuhannya. Tanamkan sopan santun budi pekerti dan akhlak mulia pada mereka. Sambungkan anak-anak kita kepada saudara-saudaranya, kerabat-kerabatnya baik dari keluarga bapaknya atau keluarga ibunya.

Sebagai tokoh masyarakat kita membina dan membimbing masyarakat dengan menjadi anggota masyarakat yang baik. Jadilah panutan buat masyarakat. Lindungi dan lestarikan kegiatan dan forum silaturhami di masyarakat yang bertujuan membangun kehidupan yang baik, kehidupan yang damai sejuk aman dan tentram.

Sebagai pegawai dan pejabat kita buat keputusan dan kebijakan dalam rangka pembinaan dan perlindungan masyarakat. Membuat mengawal dan melaksanakan aturan dan kebijakan sesuai kapasitas kita masing-masing. Maka muncullah pembinaan pra nikah (Suscatin), pembinaan keluarga sakinah (ada KST, DBKS), bimbingan pelestarian perkawinan dan keluarga (BP4).

Adapun kapasitas kita nilai terbesar adalah apa usaha kita untuk bisa berperan dan berpartisipasi membantu menjaga keutuhan sebuah keluarga yang bahagia dunia akherat.

 

Langkah Meraih Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rohmah

Disampaikan dalam Pembekalan Pengurus Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kecamatan Sleman oleh Drs. H. Sukirman, MA.
  1. Agama Sebagai Pertimbangan Utama Dalam Keluarga
Ananda berdua saat ini memasuki tahapan baru dalam menempuh jenjang kehidupan sebagai hamba Allah SWT, yaitu tahapan kehidupan berkeluarga yang diawali Akad Nikah. Nikah adalah Sunnah Rasulullah SAW.
“Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golongan ku” (HR. Ibnu Majah)
Atensi Islam tehadap urgenitas institusi keluarga, tercover dalam hadis :
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya sebab kecantikan itu akan lenyap. Dan janganlah kamu menikahi mereka karena hartanya sebab harta itu akan membuatnya sombong. Akan tetapi nikahilah mereka karena agamanya, sebab seorang budak wanita yang hitam dan beragama itu lebih utama” (HR. Ibnu majah)
Way of life yang seirama akan melancarkan perjalanan kehidupan berkeluarga. Aspek Din, akan tegar menghadapi gelombang dan tantang hidup, sedangkan aspek material seperti kecantikan, kegantengan, harta kekayaan, jabatan hanyalah sesuatu yang fana dan bersifat sementara.
 
  1. Nikah : Menyempurnakan Separoh Agama
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya” (HR. Al Baihaqi)
  1. Saling Amanah Adalah Resep Cespleng
“Wahai manusia, takutlah kepada Allah akan urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai istri dengan amanat Allah. Kami halalkan kehormatan mereka dengan kalimah Allah. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atasmu. Ketahuilah, Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap istri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa-apa untuk dirinya, dan kamu pun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya terhadap mereka” (HR. Muslim dan Turmudzi)
Seseorang yang dipercaya memegang amanah Allah, amanah keluarga yang telah merestui mereka, amanah pasangannya yang telah memilih dirinya, sudah seharusnya berupaya semaksimal mungkin menjaga kepercayaan tersebut.
Imam Bukhari rahimahullahu ta’ala meriwayatkandari Abi hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Bersabda Rasulullah SAW : “Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah saat-saat kehancurannya”
 
  1. Mitsaaqan Ghalidhan dan Kontrak Sosial
Proses ta’aruf yang diliputi bayang-bayang indah telah berlalu. Kini anda memasuki dunia yang nyata dalam “kebersamaan” berkeluarga. Pernikahan pada dasarnya merupakan “kontrak sosial” antara seorang pria dan wanita untuk hidup bersama, yang dilandasi dengan niat ibadah untuk membangun dan membina rumah tangga. Nikah di dalam Al-Qur’an disebut dengan miitsaaqan ghalidhan, perjanjian yang kokoh, kuat lagi berat. Dalam arti perjanjian harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak main-main bahkan “sekali untuk selamanya”. Seseorang yang telah menikah dituntut dengan sungguh-sungguh untuk menjaga kelanggenan ikatan pernikahan mereka, keutuhan rumah tangga mereka. Kontrak sosial tidak boleh diartikan dalam hitungan hari, bulan maupun tahun, namun dalam hitungan panjang terkait dengan limit qudrah-Nya. Islam menegaskan bahwa ketika seseorang telah memilih lawan jenis sebagai pasangannya, maka tidak boleh berganti-ganti pasangan sesuai keinginan dan selera hawa nafsu. Karena berganti-ganti pasangan tidak hanya penuh dengan resiko sosial, kesehatan maupun ekonomi. Tetapi juga melanggar miitsaqaan ghalidhaan yang telah diikrarkan dan amanah yang diembannya.
  1. Bersungguh-sungguh adalah Tatakrama Hubungan Suami Istri
“idzaa jaama’a ahadukum ahlahuu falyashduqhaa, fa idzaa qodhoo haajatahuu qobla an taqdhiya haajatahaa falaa yu’ajjilhaa hattaa taqdhiya haajatahaa”
“Jika seseorang diantara kamu melakukan hubungan kelamin dengan istrinya, hendaklah ia bersungguh-sungguh. Pada hal ketika suami sudah sampai pada penyelesaian kebutuhannya, sang istri belum sampai pada klimaksnya, janganlah ia tergesa-gesa untuk mengakhirinya, sebelum istrinya juga sampai kepada yang kamu rasakan” (HR. Ahmad)
  1. Relasi Sejajar dan Seimbang Menuju extended Family dan Birul Waalidain
Relasi suami-istri bukanlah relasi kepemilikan atau relasi “atasan” dengan “bawahan”. Sepasang pengantin adalah dua pribadi utuh yang memiliki relasi yang seimbang, sejajar dalam menunaikan hak dan kewajiban suami-istri. Sepasang pengantin tetaplah merupakan dua pribadi yang memiliki tanggungjawab yang sama di hadapan-Nya. Keluarga anda berada di tangan sepasang pengantin. Bangunan rumah tangga seperti apa yang dibangun sangat tergantung kepada sepasang penantin.
Sepasang pengantin, meskipun telah hidup berkeluarga secara mandiri, terpisah dari kedua orang tua, namun tetap dituntut berbakti dan menghormati kedua orang tua masing-masing. Kalau sebelumnya hanya memiliki dua  orang tua, sekarang orang tua pasangan adalah orang tua nya juga. Janganlah karena perkawinan ini menjadikan alasan untuk tidak berbakti lagi kepada orang tua apalagi menafikan mereka. Ajaran Islam lebih berorientasi extended family, yang menekankan perlunya birul walidain.
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa.”
  1. Peran Maksimal dan Hidup Bermanfaat
Pernikahan seharusnya menguatkan posisi, mengupgrade pasangan pengantin, yang sebelumnya telah berkiprah di masyarakat untuk lebih banyak berkiprah karena ada dukungan dari suami dan istri.
Pernikahan tidak seharusnya menjadikan pasangan pengantin beranggapan keluarga itu ad-dunya wa maa fiiha, secara sempit. Kita harus ingat kepada pesan Nabi SAW :
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, Thabrani)
  1. Nafs Waahidah menjadi Rijaalan Katsiiran Wa Nisaa’an
Jika dicermati, sangat mengagumkan titah Ilaahi alam menciptakan manusia setelah lahir, kemudian meninggal dan mungkin masih akan lahir beribu, berjuta dan bermilyar manusia lain. Hal ini bermula dari berkah Allah yang menciptakan nafs wahidah (satu jiwa). Dari nafs wahidah, baik laki-laki maupun perempuan, kemudian dijadikan berpasangan dalam ikatan perkawinan yang suci/sakral, yang kemudian membentuk institusi keluarga. Dari institusi keluarga tersebut muncullah generasi baru rijaalan katsiiran wa nisaa’an (manusia laki-laki dan perempuan yang banyak) yang berujung pada kehidupan manusia di muka bumi dengan berbagai kompleksitasnya. Harapan kita keluarga yang dibangun adalah sehat dan sejahtera dan selanjutnya akan muncul institusi yang lebih besar berupa masyarakat yang sehat pula.
  1. Ciptakan Uswah Hasanah dan Hindari No Action Talk Only
Menciptakan keluarga yang sehat, generasi yang berkualitas harus dirintis sejak dini. Pasangan pengantin harus mempersiapkan kelahiran buah hati, menyambut dan mendidik anak adalah merupakan satu kemutlakan yang harus diperhatikan. Nabi bersabda :
“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka” (HR Ibnu Majah)
Kewajiban mendidik anak tidak hanya berada di tangan ibu yang sembilan bulan telah mengandungnya, atau ayah yang mencarikan nafkah. Tetapi terletak di pundak kedua orang tua nya, karena keduanya memiliki andil dalam menghadirkan anak di dunia, dan keduanyalah yang diberi amanah Allah untuk menjaganya. Sebagai orang tua nantinya, pasangan pengantin harus menjadi panutan, uswah hasanah bagi putra-putrinya. Orang tua harus banyak berbicara dalam “tindakan-tindakan nyata” dan tidak hanya berhenti dalam ucapan, tidak seperti kata orang No Action Talk Only. Orang tua harus dapat berbuat adil dalam menghargai kehadiran putra-putrinya dalam keluarga.
  1. Mawaddah
Mawaddah tidak sekedar cinta terhadap lawan jenis dengan keinginan untuk selalu berdekatan dan bersama, tetapi lebih dalam dari itu. Mawaddah bukanlah cinta penuh gelora, seperti yang dialami orang yang sedang jatuh cinta, dan menjadikannya terlena dan layu sebelum berkembang, karena melampaui batas kewajaran yang ditentukan agama. Tidak pula hanya sekedar to love each other, saling mencintai atau menyayangi antara yang satu dengan yang lain. Mawaddah adalah saling mencintai dengan cinta plus, karena cintanya penuh kelapangan terhadap keburukan dan kekurangan orang yang dicintainya. Dengan mawaddah seorang suami dan istri akan menerima segala kekurangan yang ada pada pasangannya sebagai bagian dari dirinya dan hidupnya.
  1. Rahmah
Rahmah adalah saling simpati, menghormati dan menghargai antara yang satu dengan yang lainnya. Jiwa dan sifat rahmah harus selalu dipupuk sehingga tidak lagi hanya mawaddah (sebatas mencintai dan menyayangi dengan cinta-cinta plus). Caranya adalah dengan selalu merasa saling simpati dan menghormati, mengagumi antara kedua belah pihak, saling memiliki, melakukan yang terbaik bagi pasangan sebagaimana dirinya ingin diperlakukan.
Ungkapan menghargai dan menghormati harus dibiasakan dan seringkali ditunjukkan dalam bentuk ucapan. Alagkah indah dan mesranya, seorang suami istri yang ringan hati mengucapkan terima kasih, minta maaf dari dan untuk pasangannya. Dan perlu diingat bahwa suami istri hakekatnya adalah satu :
“mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka”
  1. Sakinah
Sakinah diartikan sebagai kedamaian dan ketentraman yang merupakan kata kunci ketiga setelah mawaddah dan rahmah. Percuma saja pemupukan sifat mawaddah dan rahmah kalau tidak didukung kebutuhan dan kesadaran (consciousness) yang mendalam. Perlunya kedamaian, ketentraman, keharmonisan, kekompakan, kehangatan, keadilan, kejujuran dan keterbukaan yang diinspirasikan dan berlandaskan kepada spiritual dan ketuhanan.
Sebagai pentutup perlulah direnungkan, bahwa 12 langkah tersebut tidak akan terjadi dengan sendirinya, akan tetapi harus diupayakan, diperjuangkan terus menerus oleh pasangan pengantin.
Pengantin baru akan menjadi saksi dan dapat membuktikan bahwa dalam masa bulan madu 3 sampai 6 bulan, mungkin hal-hal yang buruk masih dapat diredam dan ditutup-tutupi oleh kedua belah pihak bahkan juga oleh kedua mertuanya. Namun setelah 6 bulan berlalu, sifat-sifat asli positif maupun negatif mulai tampak : yang keras, lembut, individualis, sosialis, malas, disiplin, rajin, pemarah, sabar, pelit, dermawan, begitu seterusnya.
Dalam keadaan seperti ini harus menyadari kekurangan-kekurangan pada diri pasangan. Dan kita harus yakin bahwa dibalik kekurangan pada diri pasangan ada kelebihan-kelebihan yang banyak. QS An Nisa 19 : “….kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”
Untuk menciptakan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, butuh proses panjang, sepanjang kehidupan manusia (a long life), sehingga tidak dapat diraih hanya dengan berpangku tangan. Ibarat menghadapi tanaman, jika hanya sekali atau bahkan tidak pernah merawatnya, yang terjadi dalam keluarga adalah wujuuduhuu ka’adamihi (ada tapi tidak ada)
Maka dari itu Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu berusaha dan bekerja keras guna memperbaiki kehidupan kita agar terjadi perubahan yang lebih baik, QS Ar Ra’du 11 : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”
 

STANDAR PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

KARTU TANDA PENDUDUK

*KTP Baru

  • Telah berusia 17 tahun atau sudah kawin atau pernah kawin.
  • Formulir permohonan penerbitan KTP
  • Fotocopy Kartu Keluarga
  • Fotocopy akte nikah/kawin bagi penduduk yang belum berusia 17 tahun
  • Fotocopy Akte Kelahiran/Ijazah
  • Perekaman sidik jari dan foto

*KTP Hilang /Rusak

  • Formulir permohonan penerbitan KTP
  • Fotocopy Kartu Keluarga
  • Surat Kehilangan dari Kepolisian atau lampirkan KTP yang rusak
  • Surat pernyataan Kehilangan

*KTP Perubahan data

  • Mengisi formulir permohonan penerbitan KTP (F-1.07)
  • Fotocopy Kartu Keluarga
  • Data Pendukung( fotocopy ijazah/Akte kelahiran/ Surat nikah dan lain-lain)

 

KARTU KELUARGA

*Kartu Keluarga Pindah /Datang

  • formulir biodata penduduk ditandatangani Pemohon, Dukuh ,Kepala Desa.
  • Surat keterangan Pindah / datang
  • Kartu Keluarga Lama atau Kartu Keluarga yang akan ditumpangi

*Kartu Keluarga Hilang/Rusak/ model lama

  • formulir biodata penduduk ditandatangani Pemohon, Dukuh ,Kepala Desa.
  • Melampirkan Kartu Keluarga yang Rusak /Model Lama
  • Laporan kehilangan dari Kepala Desa

*Kartu Keluarga Tambah /Berkurang Anggota   Keluarga karena Kelahiran / Kematian

  • formulir biodata penduduk ditandatangani Pemohon, Dukuh ,Kepala Desa
  • Kartu Keluarga Lama
  • Surat Keterangan Kelahiran / Kematian

 

 AKTE KELAHIRAN

Persyaratan :

Surat Pengantar dari Desa

  1. Fotocopy Kartu keluarga dan KTP
  2. Fotocopy Surat nikah
  3. Surat Keterangan Kelahiran dari desa
  4. Surat Kuasa bila dikuasakan.

 

AKTE KEMATIAN

Persyaratan :

  1. Surat Pengantar dari Desa
  2. Surat Keterangan Kematian dari Desa
  3. Fotocopy Kartu Keluarga
  4. Fotocopy surat Nikah (jika sudah menikah )
  5. KTP Ahli waris (salah satu)
  6. Fotocopy Saksi ( 2 orang )
  7. Surat Kuasa bila dikuasakan.

 

MUTASI PENDUDUK

PINDAH PENDUDUK

Persyaratan :

  • Pengantar dari Dukuh & Kepala Desa
  • Formulir isian F-1.01
  • Kartu Keluarga Asli
  • KTP Asli bagi yang sudah ber- KTP
  • Pas foto berwarna terbaru 4×6 (4 lbr)

Bagi yang pindah antar kabupaten/Prop

MASUK PENDUDUK :

  • Pengantar dari Dukuh & Kepala Desa
  • Formulir isian F-1.01
  • Surat Keterangan Pindah Warga Negara Indonesia ( SKPWNI ) dari daerah asal
  • Biodata Penduduk dari daerah asal
  • Pas foto berwarna terbaru 4×6 (2 lbr)

Bagi yang pindah antar kabupaten/Prop.

  • KK Asli/KK yang akan di tumpangi

 

SEMUA PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN TIDAK DIPUNGUT BIAYA

(GRATIS)