Langkah Meraih Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rohmah

Disampaikan dalam Pembekalan Pengurus Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kecamatan Sleman oleh Drs. H. Sukirman, MA.
  1. Agama Sebagai Pertimbangan Utama Dalam Keluarga
Ananda berdua saat ini memasuki tahapan baru dalam menempuh jenjang kehidupan sebagai hamba Allah SWT, yaitu tahapan kehidupan berkeluarga yang diawali Akad Nikah. Nikah adalah Sunnah Rasulullah SAW.
“Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golongan ku” (HR. Ibnu Majah)
Atensi Islam tehadap urgenitas institusi keluarga, tercover dalam hadis :
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya sebab kecantikan itu akan lenyap. Dan janganlah kamu menikahi mereka karena hartanya sebab harta itu akan membuatnya sombong. Akan tetapi nikahilah mereka karena agamanya, sebab seorang budak wanita yang hitam dan beragama itu lebih utama” (HR. Ibnu majah)
Way of life yang seirama akan melancarkan perjalanan kehidupan berkeluarga. Aspek Din, akan tegar menghadapi gelombang dan tantang hidup, sedangkan aspek material seperti kecantikan, kegantengan, harta kekayaan, jabatan hanyalah sesuatu yang fana dan bersifat sementara.
 
  1. Nikah : Menyempurnakan Separoh Agama
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya” (HR. Al Baihaqi)
  1. Saling Amanah Adalah Resep Cespleng
“Wahai manusia, takutlah kepada Allah akan urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai istri dengan amanat Allah. Kami halalkan kehormatan mereka dengan kalimah Allah. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atasmu. Ketahuilah, Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap istri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa-apa untuk dirinya, dan kamu pun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya terhadap mereka” (HR. Muslim dan Turmudzi)
Seseorang yang dipercaya memegang amanah Allah, amanah keluarga yang telah merestui mereka, amanah pasangannya yang telah memilih dirinya, sudah seharusnya berupaya semaksimal mungkin menjaga kepercayaan tersebut.
Imam Bukhari rahimahullahu ta’ala meriwayatkandari Abi hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Bersabda Rasulullah SAW : “Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah saat-saat kehancurannya”
 
  1. Mitsaaqan Ghalidhan dan Kontrak Sosial
Proses ta’aruf yang diliputi bayang-bayang indah telah berlalu. Kini anda memasuki dunia yang nyata dalam “kebersamaan” berkeluarga. Pernikahan pada dasarnya merupakan “kontrak sosial” antara seorang pria dan wanita untuk hidup bersama, yang dilandasi dengan niat ibadah untuk membangun dan membina rumah tangga. Nikah di dalam Al-Qur’an disebut dengan miitsaaqan ghalidhan, perjanjian yang kokoh, kuat lagi berat. Dalam arti perjanjian harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak main-main bahkan “sekali untuk selamanya”. Seseorang yang telah menikah dituntut dengan sungguh-sungguh untuk menjaga kelanggenan ikatan pernikahan mereka, keutuhan rumah tangga mereka. Kontrak sosial tidak boleh diartikan dalam hitungan hari, bulan maupun tahun, namun dalam hitungan panjang terkait dengan limit qudrah-Nya. Islam menegaskan bahwa ketika seseorang telah memilih lawan jenis sebagai pasangannya, maka tidak boleh berganti-ganti pasangan sesuai keinginan dan selera hawa nafsu. Karena berganti-ganti pasangan tidak hanya penuh dengan resiko sosial, kesehatan maupun ekonomi. Tetapi juga melanggar miitsaqaan ghalidhaan yang telah diikrarkan dan amanah yang diembannya.
  1. Bersungguh-sungguh adalah Tatakrama Hubungan Suami Istri
“idzaa jaama’a ahadukum ahlahuu falyashduqhaa, fa idzaa qodhoo haajatahuu qobla an taqdhiya haajatahaa falaa yu’ajjilhaa hattaa taqdhiya haajatahaa”
“Jika seseorang diantara kamu melakukan hubungan kelamin dengan istrinya, hendaklah ia bersungguh-sungguh. Pada hal ketika suami sudah sampai pada penyelesaian kebutuhannya, sang istri belum sampai pada klimaksnya, janganlah ia tergesa-gesa untuk mengakhirinya, sebelum istrinya juga sampai kepada yang kamu rasakan” (HR. Ahmad)
  1. Relasi Sejajar dan Seimbang Menuju extended Family dan Birul Waalidain
Relasi suami-istri bukanlah relasi kepemilikan atau relasi “atasan” dengan “bawahan”. Sepasang pengantin adalah dua pribadi utuh yang memiliki relasi yang seimbang, sejajar dalam menunaikan hak dan kewajiban suami-istri. Sepasang pengantin tetaplah merupakan dua pribadi yang memiliki tanggungjawab yang sama di hadapan-Nya. Keluarga anda berada di tangan sepasang pengantin. Bangunan rumah tangga seperti apa yang dibangun sangat tergantung kepada sepasang penantin.
Sepasang pengantin, meskipun telah hidup berkeluarga secara mandiri, terpisah dari kedua orang tua, namun tetap dituntut berbakti dan menghormati kedua orang tua masing-masing. Kalau sebelumnya hanya memiliki dua  orang tua, sekarang orang tua pasangan adalah orang tua nya juga. Janganlah karena perkawinan ini menjadikan alasan untuk tidak berbakti lagi kepada orang tua apalagi menafikan mereka. Ajaran Islam lebih berorientasi extended family, yang menekankan perlunya birul walidain.
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa.”
  1. Peran Maksimal dan Hidup Bermanfaat
Pernikahan seharusnya menguatkan posisi, mengupgrade pasangan pengantin, yang sebelumnya telah berkiprah di masyarakat untuk lebih banyak berkiprah karena ada dukungan dari suami dan istri.
Pernikahan tidak seharusnya menjadikan pasangan pengantin beranggapan keluarga itu ad-dunya wa maa fiiha, secara sempit. Kita harus ingat kepada pesan Nabi SAW :
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, Thabrani)
  1. Nafs Waahidah menjadi Rijaalan Katsiiran Wa Nisaa’an
Jika dicermati, sangat mengagumkan titah Ilaahi alam menciptakan manusia setelah lahir, kemudian meninggal dan mungkin masih akan lahir beribu, berjuta dan bermilyar manusia lain. Hal ini bermula dari berkah Allah yang menciptakan nafs wahidah (satu jiwa). Dari nafs wahidah, baik laki-laki maupun perempuan, kemudian dijadikan berpasangan dalam ikatan perkawinan yang suci/sakral, yang kemudian membentuk institusi keluarga. Dari institusi keluarga tersebut muncullah generasi baru rijaalan katsiiran wa nisaa’an (manusia laki-laki dan perempuan yang banyak) yang berujung pada kehidupan manusia di muka bumi dengan berbagai kompleksitasnya. Harapan kita keluarga yang dibangun adalah sehat dan sejahtera dan selanjutnya akan muncul institusi yang lebih besar berupa masyarakat yang sehat pula.
  1. Ciptakan Uswah Hasanah dan Hindari No Action Talk Only
Menciptakan keluarga yang sehat, generasi yang berkualitas harus dirintis sejak dini. Pasangan pengantin harus mempersiapkan kelahiran buah hati, menyambut dan mendidik anak adalah merupakan satu kemutlakan yang harus diperhatikan. Nabi bersabda :
“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka” (HR Ibnu Majah)
Kewajiban mendidik anak tidak hanya berada di tangan ibu yang sembilan bulan telah mengandungnya, atau ayah yang mencarikan nafkah. Tetapi terletak di pundak kedua orang tua nya, karena keduanya memiliki andil dalam menghadirkan anak di dunia, dan keduanyalah yang diberi amanah Allah untuk menjaganya. Sebagai orang tua nantinya, pasangan pengantin harus menjadi panutan, uswah hasanah bagi putra-putrinya. Orang tua harus banyak berbicara dalam “tindakan-tindakan nyata” dan tidak hanya berhenti dalam ucapan, tidak seperti kata orang No Action Talk Only. Orang tua harus dapat berbuat adil dalam menghargai kehadiran putra-putrinya dalam keluarga.
  1. Mawaddah
Mawaddah tidak sekedar cinta terhadap lawan jenis dengan keinginan untuk selalu berdekatan dan bersama, tetapi lebih dalam dari itu. Mawaddah bukanlah cinta penuh gelora, seperti yang dialami orang yang sedang jatuh cinta, dan menjadikannya terlena dan layu sebelum berkembang, karena melampaui batas kewajaran yang ditentukan agama. Tidak pula hanya sekedar to love each other, saling mencintai atau menyayangi antara yang satu dengan yang lain. Mawaddah adalah saling mencintai dengan cinta plus, karena cintanya penuh kelapangan terhadap keburukan dan kekurangan orang yang dicintainya. Dengan mawaddah seorang suami dan istri akan menerima segala kekurangan yang ada pada pasangannya sebagai bagian dari dirinya dan hidupnya.
  1. Rahmah
Rahmah adalah saling simpati, menghormati dan menghargai antara yang satu dengan yang lainnya. Jiwa dan sifat rahmah harus selalu dipupuk sehingga tidak lagi hanya mawaddah (sebatas mencintai dan menyayangi dengan cinta-cinta plus). Caranya adalah dengan selalu merasa saling simpati dan menghormati, mengagumi antara kedua belah pihak, saling memiliki, melakukan yang terbaik bagi pasangan sebagaimana dirinya ingin diperlakukan.
Ungkapan menghargai dan menghormati harus dibiasakan dan seringkali ditunjukkan dalam bentuk ucapan. Alagkah indah dan mesranya, seorang suami istri yang ringan hati mengucapkan terima kasih, minta maaf dari dan untuk pasangannya. Dan perlu diingat bahwa suami istri hakekatnya adalah satu :
“mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka”
  1. Sakinah
Sakinah diartikan sebagai kedamaian dan ketentraman yang merupakan kata kunci ketiga setelah mawaddah dan rahmah. Percuma saja pemupukan sifat mawaddah dan rahmah kalau tidak didukung kebutuhan dan kesadaran (consciousness) yang mendalam. Perlunya kedamaian, ketentraman, keharmonisan, kekompakan, kehangatan, keadilan, kejujuran dan keterbukaan yang diinspirasikan dan berlandaskan kepada spiritual dan ketuhanan.
Sebagai pentutup perlulah direnungkan, bahwa 12 langkah tersebut tidak akan terjadi dengan sendirinya, akan tetapi harus diupayakan, diperjuangkan terus menerus oleh pasangan pengantin.
Pengantin baru akan menjadi saksi dan dapat membuktikan bahwa dalam masa bulan madu 3 sampai 6 bulan, mungkin hal-hal yang buruk masih dapat diredam dan ditutup-tutupi oleh kedua belah pihak bahkan juga oleh kedua mertuanya. Namun setelah 6 bulan berlalu, sifat-sifat asli positif maupun negatif mulai tampak : yang keras, lembut, individualis, sosialis, malas, disiplin, rajin, pemarah, sabar, pelit, dermawan, begitu seterusnya.
Dalam keadaan seperti ini harus menyadari kekurangan-kekurangan pada diri pasangan. Dan kita harus yakin bahwa dibalik kekurangan pada diri pasangan ada kelebihan-kelebihan yang banyak. QS An Nisa 19 : “….kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”
Untuk menciptakan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, butuh proses panjang, sepanjang kehidupan manusia (a long life), sehingga tidak dapat diraih hanya dengan berpangku tangan. Ibarat menghadapi tanaman, jika hanya sekali atau bahkan tidak pernah merawatnya, yang terjadi dalam keluarga adalah wujuuduhuu ka’adamihi (ada tapi tidak ada)
Maka dari itu Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu berusaha dan bekerja keras guna memperbaiki kehidupan kita agar terjadi perubahan yang lebih baik, QS Ar Ra’du 11 : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *