KEGIATAN DI DESA CATURHARJO

Pada hari Jum’at tanggal 8 Maret 2013 yang lalu tepatnya di Balai Desa Caturharjo telah diadakan beberapa kegiatan yang dihadiri langsung oleh Bapak Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, M.Si.
Kegiatan tersebut merupakan lintas sektoral, dari kegiatan penanggulangan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, dan kesehatan masyarakat. Ketiga kegiatan tersebut saling bersinergi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut telah dikukuhkan Forum Kemitraan Pengusaha se-Desa caturharjo oleh Bapak Camat Sleman Drs. H. Hery Sutopo, MM,M.Sc. Forum tersebut membawahi 31 perusahaanse-Desa Caturharjo dengan sekretariat di PT BMB Eksport. Forum kemitraan tersebut berkomitmen untuk berpartisipasi dalam penanggulangan kemiskinan di Desa Caturharjo.
Kegiatan selanjutnya adalah Penetapan Desa Caturharjo Sebagai Desa Stop BABS. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, dengan mengubah perilaku masyarakat dari sebelumnya masih melakukan BABS kemudian diarahkan untuk selalu melakukan BAB di tempat yang semestinya. Pada intinya adalah menyadarkan masyarakat dengan memunculkan rasa jijik, malu, dan kotor jika masih melakukan BABS. Pada akhirnya masyarakat Desa Caturharjo mulai sadar bahwa kesehatan dapat dimulai dengan sikap individu yang kemudian memicu sikap masyarakat disekitarnya, sebagai bagian dari Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
Kegiatan berikutnya adalah penandatanganan Kesepakatan Kerjasama antara Dekan Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta dengan Kecamatan Sleman tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia. Ruang lingkup kesepakatan bersama ini antara lain dalam bidang : Pendidikan dan peltihan, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kajian tentang Sumber Daya Alam, Pengabdian kepada masyarakat, dan Pengembangan masyarakat berbasis agribisnis.
Ketiga kegiatan di atas bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, baik melalui pemberdayaan masyarakat maupun dari kesehatan masyarakat. Jika tingkat kesehatan masyarakat tinggi, maka masyarakat dapat bekerja, dapat memberdayakan diri sendiri, sehingga kesejahteraan ekonomi dapat meningkat.

TIM PENDAMPING DESA SE-KECAMATAN SLEMAN

Tim Pendamping untuk desa se-Kecamatan Sleman meliputi 5 (lima) desa yaitu: Tridadi, Triharjo, Trimulyo, Pandowoharjo, dan Caturharjo. Tim terdiri dari karyawan-karyawati terpilih yang dianggap mampu dan berkompeten dalam mendampingi desa dalam bidang pemerintahan, perekonomian, dan kesejahteraan masyarakat dengan jumlah 2 (dua) orang untuk setiap desa.
Tim Pendamping Desa telah ada sejak tahun 2012 dan masih akan terus berlanjut untuk tahun-tahun ke depan sebagai “Duto Mrantasi”
Adapun tugas Tim Pendamping Desa adalah :

  1. Menyampaikan arah kebijakan dari Pemerintah Daerah, Propinsi DIY, dan  Pemerintah Pusat;
  2. Menyerap aspirasi dan permasalahan di tingkat desa untuk dikomunikasikan dengan pengambil kebijakan di Tingkat Pemerintah Daerah;
  3. Mempererat hubungan komunikasi desa dengan kecamatan;
  4. Membantu desa dalam penyelesaian permasalahan dalam bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan.

Sebagai mitra kecamatan dalam menjalankan tugas kedinasan tentu saja peran Tim Pendamping Desa sangat penting, karena dengan adanya tim khusus yang langsung berinteraksi dengan desa, setiap perkembangan desa dapat terpantau dengan baik.

DALEM PRABU PUNTHADEWA

Sebagai bagian dari penataan lingkungan kantor kecamatan, Rumah Dinas Camat Sleman pun tidak lepas dari penataan dikarenakan masih berada di dalam lingkungan Kantor Kecamatan Sleman.
Pada saat ini Rumah Dinas Camat Sleman mempunyai “nama” dengan sebutan “Dalem Prabu Punthadewa”, sebuah nama yang diambil dari nama tokoh pewayangan jawa. Latarbelakang pemilihan nama tersebut adalah karena karakter tokoh wayang tersebut yang paling menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, ikhlas melayani, rendah hati, dan andhap ashor. Karakter tersebut dinilai sesuai jika diterapkan dalam birokrasi pemerintahan maupun kehidupan sehari-hari. Tidak hanya untuk Camat Sleman dikarenakan nama tersebut dipasang di Rumah Dinas Camat, namun diharapkan sifat-sifat baik tersebut dapat diamalkan oleh seluruh karyawan-karyawati Kecamatan Sleman.

SERTIFIKASI ARAH KIBLAT MUSHOLA AL-IQRO’

Mushola Al-Iqro’ yang berada di lingkungan Kantor Kecamatan Sleman  telah memperoleh sertifikat Pengukuran Arah Kiblat dari Kementrian Agama Kabupaten Sleman. Sebelum adanya standard arah kiblat pegawai Kecamatan Sleman maupun masyarakat yang menggunakan mushola masih sering ragu-ragu, apakah arah sudah cenderung ke barat atau cenderung ke selatan.
Namun, setelah adanya sertifikat tersebut, pada saat ini jamaah Mushola Al-Iqro dapat lebih tenang dan mantab dalam beribadah.

PENATAAN LINGKUNGAN KANTOR KECAMATAN SLEMAN

Lingkungan kerja/kantor yang bersih, rapi, dan indah tentu saja menjadi idaman bagi setiap pegawai. Mulai tahun 2012 Kecamatan Sleman Kantor Kecamatan Sleman berbenah dengan penataan lingkungan kantor. Dimulai dengan pengecatan pagar luar kantor dari yang semula hijau menjadi putih, kemudian dengan penghijauan tanaman hias maupun tanaman keras seperti pucuk merah, sawo bludru, sawo kecik, kepel, dll. Dilanjutkan dengan pembuatan air mancur yang diletakkan di depan Seksi Sekretariat Kecamatan Sleman membuat semakin asri lingkungan kantor.
Rencana penataan lingkungan Kantor Kecamatan Sleman pada tahun 2013 ini salahsatunya adalah dengan pembuatan pedestrian dari jalan pintu masuk samping kantor sampai dengan halaman belakang, dengan disertai penanaman tanaman hias. Semoga dengan semakin tertata rapi dan cantiknya lingkungan Kantor Kecamatan Sleman dapat berbanding lurus dengan kinerja pegawai Kecamatan Sleman dalam melayani masyarakat.

PENGAJIAN AL-HIDAYAH UNTUK “CHARGE KEIMANAN”

Kecamatan Sleman senantiasa memfasilitasi kegiatan sosial keagamaan bagi warga massyarakat di sekitar kantor Kecamatan Sleman. Salah satu diantara kegiatan tersebut adalah fasilitasi kelompok Pengajian Al-Hidayah yang terdiri dari ibu-ibu yang berdomisili di sekitar kantor Kecamatan Sleman. Kegiatan tersebut diadakan setiap hari Rabu Pahing pukul 13.00 WIB.
Penceramah yang rutin mengisi kegiatan tersebut adalah Ketua MUI Kecamatan Sleman Bapak K.H. Wasyim Waskito S.
Pengajian ini bersifat terbuka sehingga siapa saja yang berminat untuk hadir dipersilahkan untuk ke Kecamatan Sleman pada jadwal tersebut.

PATROLI TERPADU MUSPIKA SETIAP MINGGU “LEGI”

Kecamatan Sleman sebagai pusat Ibukota Kabupaten tentu saja dengan kompleksitas warga dan permasalahan perlu mendapatkan perhatian khusus. Pencegahan tindak kejahatan maupun kerawanan sosial lainnya perlu perhatian seluruh pihak, terutamapara pemangku kepentingan di wilayah  Kecamatan Sleman dan masyarakat itu sendiri.
Untuk mencegah, mengawasi, dan menanggulangi permasalahan di wilayah Kecamatan Sleman dibentuklah kegiatan Patroli Terpadu.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh segenap Muspika Kecamatan Sleman.
Jika jajaran Muspika menggelar Patroli Terpadu, masyarakat juga diarahkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan masing-masing.
Munculnya Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat dapat menjadi sarana untuk menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.
Forum tersebut berfungsi sebagai ajang sosialisasi “COP” (COMMUNITY OF POLICE / CIVIL OF POLICE), yaitu menjadikan setiap individu/orang menjadi “polisi”, walaupun tidak harus menjadi anggota polisi/berseragam polisi, sehingga menjadi taat pada peraturan perundang-undangan, menjaga keamanan dan ketertiban diri pribadi, keluarga, dan masyarakat sekitar.
COP diharapkan menjadi jurus ampuh dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat mengingat perkembangan tindak kriminalitas dewasa ini. Jadi dengan adanya perhatian dari Muspika dan kesadaran masyarakat dapat meningkatkan keamanan dan ketertiban di wilayah Kecamatan Sleman.

TABO SUDAH MULAI “MENULAR”

TABO alias Tanggap Bocah merupakan kelompok bocah/anak-anak yang menjadi juru pemantau jentik nyamuk di lingkungan rumah tangga. Embrio TABO berasal dari Padukuhan Ganjuran, Caturharjo yang terdiri dari anak-anak usia SD-SMP dan ini adalah yang pertamakalinya di Kabupaten Sleman.
Tujuan keberadaan TABO adalah untuk menurunkan angka jentik nyamuk yang berpotensi menimbulkan penyakit yang berasal dari gigitan nyamuk seperti Demam Berdarah maupun Malaria dengan melakukan pengecekan rutin di lingkungan rumah tangga.
Jika ditemukan ada rumah yang terdapat jentik nyamuk segera diberi tanda dengan bendera warna pink. Maksudnya agar penghuni dan masyarakat segera waspada dan melakukan pembersihan lingkungan tempat tinggal nyamuk.
Pada saat ini TABO sudah mulai “menular” di seluruh desa se-kecamatan Sleman bahkan kecamatan lain di Kabupaten Sleman.
Sudah mulai terbentuk TABO-TABO lain di wilayah Kecamatan Sleman dan daerah lain di Kabupaten Sleman tentu saja menjadi hal yang sangat membanggakan dikarenakan masyarakat sudah mulai sadar akan kesehatan dengan melakukan tindakan pencegahan secara mandiri.
Sebuah aksi penularan secara positif dengan menyebarkan aksi kebaikan bagi kesehatan, bukan penularan secara negatif dengan menularkan penyakit kepada orang lain.

RENCANA PELEBARAN JALAN MAGELANG

Berdasarkan Surat dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Satker. Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Propinsi DIY Direktorat Jenderal Bina Marga, Nomor : UM.02.06-BM.P1/200313/02, Tanggal 20 Maret 2013, telah diadakan sosialisasi di Ruang Pertemuan Cupu Watu Restope perihal pelebaran Jalan Magelang dari seputaran Denggung sampai dengan Jembatan Krasak (Perbatasan DIY-Jateng).
Tujuan pelebaran jalan tersebut adalah untuk memperlancar arus lalu lintas. Seperti yang kita ketahui bersama, arus lalulintas sepanjang Jalan Magelang sudah sangat padat, terlebih lagi pada jam-jam sibuk.
Pelebaran direncanakan akan ditambah 2 meter, dengan dilengkapi median jalan dari beton yang disertai tanaman hias sepanjang jalan. Pada tahun 2012 sudah dibangun 500 meter di sekitar kawasan Kemloko, Caturharjo. Tahun 2013 ini telah dimulai pembangunan dari seputaran Denggung hingga Pasar Sleman.
Median jalan dari beton dapat menjadi salah satu penurun angka kecelakaan karena kendaraan sudah tidak dapat lagi melaju melalui median jalan, sedangkan penambahan tanaman hias sepanjang jalan akan menambah kesan asri dan cantik sehingga tidak terkesan jalan raya selalu gersang dan panas.

PENATAAN PASAR SLEMAN LEBIH NYAMAN

Pasar Sleman sebelum penataan terkesan semrawut, dengan pedagang yang berada di sepanjang badan jalan sehingga mempersempit laju jalan dan menimbulkan kemacetan. Terlebih lagi jika pada hari pasaran yaitu “pahing” tiba, volume pedagang semakin meningkat sehingga badan jalan yang ada dipenuhi kendaraan yang akan lewat, pedagang, dan hilir mudik pembeli.
Namun setelah adanya penataan dengan relokasi pedagang yang berada di sepanjang badan jalan untuk masuk ke area yang telah disediakan dan pedagang yang mendirikan bangunan non permanen di bahu jalan juga direlokasi, saat ini jika melewati Pasar Sleman terasa lebih lancar tanpa kesan semrawut lagi.
Penataan Pasar Sleman sudah dirasakan efeknya bagi masyarakat di sekitar Pasar Sleman. Selain lebih lancar jika berkendara, kesan bersih dan tertib juga patut diapresiasi.
Penataan Pasar Sleman merupakan salah satu program untuk mendukung tercapainya Adipura bagi Kabupaten Sleman.