Hasil Kejuaraan Festival Kethoprak

Festival Kethoprak Antar Kecamatan telah usai pada hari Sabtu tanggal 19 September 2015. Kontingen Kecamatan Sleman pada kesempatan ini berhasil menyabet Juara 3 kategori Penyaji Terbaik, Juara 1 Penata Iringan, dan Juara 1 Pemeran Pembantu Putri Terbaik. Hasil yang bagus mengingat persaingan kelompok kethoprak di Kabupaten Sleman tergolong ketat. Semua kontingen berupaya menampilkan pertunjukan semaksimal mungkin.
Berikut hasil kejuaraan Festival Kethoprak tahun 2015 :
Kategori Penyaji Terbaik :
  1. Kecamatan Gamping
  2. Kecamatan Kecamatan
  3. Kecamatan Sleman
  4. Kecamatan Minggir
  5. Kecamatan Ngemplak

Kategori Sutradara Terbaik : Kecamatan Gamping

Kategori Penata Iringan Terbaik : Kecamatan Sleman
Kategori Penata Rias dan Busana Terbaik : Kecamatan Godean
Kategori Penata Artistik Terbaik : Kecamatan Gamping
Kategori Pemeran Putri Terbaik : Kecamatan Berbah
Kategori Pemeran Putra Terbaik : Kecamatan Minggir
Kategori Pemeran Pembantu Putri Terbaik : Kecamatan Sleman
Kategori Pemeran Pembantu Putra Terbaik : Kecamatan Ngemplak
Kategori Pembinaan Terbaik : Kecamatan Berbah
Semoga di festival tahun-tahun mendatang kontingen Kecamatan Sleman dapat memperoleh hasil lebih baik.

Pentas Kethoprak Tejo Budaya

IMG_20150919_204604Festival Kethoprak Antar Kecamatan tingkat Kabupaten Sleman yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman diikuti oleh 17 Kecamatan. Kontingen Kecamatan Sleman berkesempatan pentas pada hari Sabtu tanggal 19 September 2015 mulai pukul 19.30 WIB. Lakon yang dipentaskan berjudul “Kidung Panglilih.”
IMG_20150919_195814Kisah ini berlatar belakang Kasultanan Pajang dan awal berdirinya Mataram. Kisah cinta antara Panuntun dan Mirah harus berakhir saat Ajeng Maruti telah dipilih menjadi jodoh oleh orang tua nya. Sementara perjodohan itu juga mengakhiri cinta Ajeng maruti dengan Wiguna. Wiguna yang menyeberang ke Mataram akhirnya menaruh benci kepada Panuntun yang berada di pihak Pajang.
Berawal dari perjodohan, kisah cinta dua pasang dari kubu berbeda, Pajang dan Mataram berakhir tersungkur dalam kematian. Konflik yang terjadi di masyarakat itu mencuat ketika terjadi pergolakan politik antara Pajang dan Mataram. Saat Mataram semakin kuat, kekuasaan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya semakin terancam.
IMG_20150919_202454Memanasnya situasi kerajaan menjalar ke masyarakat yang hidup di kawasan itu termasuk di Manisrengga. Beberapa orang memilih tetap bertahan dengan Pajang, tetapi beberapa memilih pihak seberang di bawah pimpinan Danang Sutawijaya. Gambaran panasnya kedua kesultanan tergambar persis di Manisrengga. Tidak hanya menjalar ke permasalahan pihak mana yang harus dibela, kisah panasnya konflik dan polemik semakin berkobar diantara Panuntun, Ajeng, Wiguna, dan Mirah. Mereka adalah bagian masyarakat Manisrengga yang dikisahkan menjadi korban kejamnya perebutan kekuasaan.