Artikel : MENGHINDARI PERCERAIAN

MENGHINDARI PERCERAIAN
(Seri Ketahanan Keluarga)
Oleh : Nasrodin Sugiyanto, S.Ag, M.Si
Disampaikan dalam Penyuluhan Keluarga Sakinah di Balai Desa Tridadi, Sleman

 

Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW yang akan mendapat pahala jika kita melakukannya. Sebaliknya bila kita memutuskan untuk mengakhiri pernikahan maka perceraian sendiri adalah suatu hal yang halal untuk dilakukan. Jikalau sepasang suami istri melakukan perceraian, itu akan menggoncangkan ‘Arsy sebegitu dahsyatnya. Oleh karena hal tersebut, Allah membenci perceraian, meski telah dikatakan bahwa hal ini adalah halal. Jagalah keutuhan keluarga.

Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atauk kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban anak-anak mereka. Banyak negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan pasangan itu dapat diminta maju pengadilan.

Gejala rusaknya sebuah keluarga bisa ditengarai antara lain :

  1. Sering terjadi percekcokan/ pertengkaran
  2. Suami atau istri pergi tanpa berita
  3. Suami atau istri tidak tidur di rumah sendiri
  4. Suami atau istri selingkuh
  5. Suami atau istri sering curhat pada orang lain tentang kejelekan pasangannya
  6. Suami atau istri melakukan kegiatan di luar tanpa diketahui pasangannya

Untuk mensikapi hal-hal di atas ada tiga tindakan :

  1. Mendatangi rumahnya bertemu keduanya dan bantu cari solusi persoalannya
  2. Memanggil keduanya ke kantor dan bantu cari solusi persoalannya
  3. Melaporkan ke pihak yang bisa membantu menangani persoalannya

Diantara hal-hal yang kita kaji dari sebuah keluarga adalah kenapa gejala-gejala perceraian itu terjadi. Ada yang tidak beres dalam keluarga itu dan harus diperbaiki. Harus dicek dan diingatkan kembali tentang niat dan tujuan pernikahan mereka, kepastian hukum pernikahan mereka, kematangan jiwa dan raga mereka, dasar keagamaan dan pendidikan mereka, pelaksanaan hak dan kewajiban sebagai suami atau istri.

  1. Niat dan Tujuan

Tidak punya tujuan karena terpaksa atau dipaksa menikah, karena hamil, dijodohkan. Tujuan yang salah. Ingin menyakiti atau menyengsarakan, membuat penderitaan karena balas dendam. Menikah hanya sementara untuk mencari kesenangan sesaat.

  1. Kepastian Hukum

Dalam prakteknya kita sering menerima konsultasi keluarga yang meskipun telah lama hidup bersama dan beranak pinak, ternyata mereka tidak dicatatkan pernikahannya secara peraturan yang berlaku. Salah satu pihak berbuat semaunya tanpa rasa takut akan hukuman.

  1. Kematangan Jiwa dan Raga

Pernikahan pada usia dini dan bawah umur sangat rentan perceraian karena kematangan jiwa dan sikap mental yangmasih rendah. Mereka masih memuja kesenangan tanpa bisa menghadapi persoalan dalam kehidupan keluarga mereka.

  1. Hak dan Kewajiban Suami Istri
  • Suami tidak memberikan nafkah untuk kebutuhan belanja keluarga.
  • Suami atau istri terlalu menghamburkan keluarga.
  • Suami atau istri tidak memberikan pelayanan kebutuhan biologis.
  • Suami tidak memberikan perlindungan, bimbingan, pendidikan agama dan teladan yang baik.
  • Istri menuntut pemberian nafkah di luar kemampuan suami.
  • Istri tidak taat berbakti kepada suami lahir dan batin.
  • Istri tidak bisa mengatur urusan rumah tangga dengan baik.

Bila kita telah mengetahui hasil kajian terhadap persoalan pokok dari keluarga maka dilakukan tindak lanjut untuk menyelesaikannya. Dengan melihat apa persoalannya, bila niat dan tujuan yang salah maka harus diprogram ulang. Bila tentang kepastian hukum bantu supaya ada kepastian hukum. Bila kematangan jiwa rendah maka diberikan pencerahan pendidikan dan pelatihan. Bila tentang hak dan kewajiban suami-istri maka perlu difahamkan dan dilaksanakan.

Kita harus bekerja pada fase-fasenya, yaitu sebelum masuk membentuk bahtera keluarga dan sesudah membangun dan melestarikan keluarga. Fase sebelum pembentukan keluarga adalah pembinaan kepada usia remaja dan usia menikah tentang keluarga dan persoalannya. Fase setelah terbentuk keluarga adalah pembinaan pendidikan dan pelatihan, konsultasi dan penasehatan perkawinan dan keluarga.

Kita bertindak dan berperan bisa sebagai tim khusus atau di luar tim, sesuai dengan profesi dan kedudukan kita masing-masing. Sebagai kepala keluarga kita bina dan jaga keluarga kita. Jadilah idola dan teladan buat anak-anak kita. Tanamkan kedekatan kepada Tuhannya. Tanamkan sopan santun budi pekerti dan akhlak mulia pada mereka. Sambungkan anak-anak kita kepada saudara-saudaranya, kerabat-kerabatnya baik dari keluarga bapaknya atau keluarga ibunya.

Sebagai tokoh masyarakat kita membina dan membimbing masyarakat dengan menjadi anggota masyarakat yang baik. Jadilah panutan buat masyarakat. Lindungi dan lestarikan kegiatan dan forum silaturhami di masyarakat yang bertujuan membangun kehidupan yang baik, kehidupan yang damai sejuk aman dan tentram.

Sebagai pegawai dan pejabat kita buat keputusan dan kebijakan dalam rangka pembinaan dan perlindungan masyarakat. Membuat mengawal dan melaksanakan aturan dan kebijakan sesuai kapasitas kita masing-masing. Maka muncullah pembinaan pra nikah (Suscatin), pembinaan keluarga sakinah (ada KST, DBKS), bimbingan pelestarian perkawinan dan keluarga (BP4).

Adapun kapasitas kita nilai terbesar adalah apa usaha kita untuk bisa berperan dan berpartisipasi membantu menjaga keutuhan sebuah keluarga yang bahagia dunia akherat.

 

Penyuluhan Takmir Masjid

takmir masjid

Selama tiga hari, yaitu tanggal 26, 27, dan 31 Januari 2017 Kecamatan Sleman bekerjasama dengan KUA Sleman dan Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kecamatan Sleman melaksanakan kegiatan Penyuluhan Takmir Masjid yang dilaksanakan di 5 Desa se-Kecamatan Sleman.

Penyuluhan Takmir Masjid ini bertujuan untuk memperkuat peran serta takmir masjid ke dalam urusan keummatan, yaitu tidak hanya permasalahan yang berhubungan dengan internal masjid saja, namun Takmir Masjid diharapkan untuk dapat menyelami kondisi sosial kemasyarakatan di lingkungannya. Kondisi sosial kemasyarakatan dalam artian ini sangat luas dan kompleks, semisal kondisi sosial-ekonomi, kondisi keharmonisan rumah tangga, kondisi interaksi sosialnya, kondisi kesehatan, dll. Sehingga tidak hanya Takmir Masjid terfokus pada kegiatan di masjid saja seperti selama ini.

Takmir masjid diberikan berbagai macam materi yang berkaitan dengan kemasyarakatan, baik Upaya pelestarian perkawinan; Upaya membentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, maupun Peran dan fungsi sebagai takmir masjid itu sendiri.

Secara garis besar kegiatan dilaksanakan dengan susunan acara sebagai berikut :

No
Acara
Pelaksana
1
Sambutan Selamat Datang
Kepala Desa
2
Sambutan dan Pengarahan
Camat
3
Materi : Model Penyelesaian Masalah Keluarga
BP4 Kec. Sleman
4
Materi : Peran Takmir Masjid Dalam Menyelesaikan Problem Keumatan
KUA Kec. Sleman
5
Pembentukan Forum Takmir Masjid Tingkat Desa
KUA Kec. Sleman

Berikut ini adalah jadwal kegiatan Penyuluhan Takmir Masjid :

No
Hari, Tanggal
Tempat
Penceramah
1
Kamis, 26 Januari 2017
Balai Desa Triharjo
1.     H. Agus Nurdin
2.     Drs. H. Sukirman, MA
2
Kamis, 26 Januari 2017
Balai Desa Caturharjo
1.     H. Zurqoni, SE
2.     Drs. H. Sukirman, MA
3
Jumat, 27 Januari 2017
Balai Desa Trimulyo
1.     Dr. Hj. Sumarni, M.Si
2.     Drs. H. Sukirman, MA
4
Selasa, 31 Januari 2017
Balai Desa Tridadi
1.     Nasroddin Sugiyanto, S.Ag, M.Si
2.     Drs. H. Sukirman, MA
5
Selasa, 31 Januari 2017
Balai Desa Pandowoharjo
1.     KH. R. Sukidi Cakrasuwignya

2.     Drs. H. Sukirman, MA

Dalam kegiatan ini juga diserahkan kotak infaq dari BAZNAS Kabupaten Sleman kepada masing-masing desa yang dapat digunakan untuk menghimpun dana masyarakat yang ingin memberikan infaq maupun sodaqoh. Kota infaq ini nantinya akan dipasang di bagian Pelayanan Umum masing-masing Desa dimana masyarakat banyak memanfaatkan waktunya disana.

Sebagai rencana tindak lanjut, Takmir Masjid di masing-masing desa diarahkan untuk membentuk Forum Komunikasi Takmir Masjid yang disahkan oleh Kepala Desa. Pembentukan forum tersebut juga sebagai pendukung SK Camat Sleman Nomor : 81 /Kep Camat / 2016 Tanggal 15 November 2016, Tentang Pembentukan Forum Silaturahmi Takmir Masjid Kecamatan Sleman. Nantinya Forum Takmir Masjid akan mempunyai tugas sebagai berikut :

  1. Melakukan koordinasi dengan kelompok paguyuban warga yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan Forum Silaturahim Takmir Masjid.
  2. Melaksanakan pembinaan secara spesifik dan menyeluruh sesuai dengan bidang masing-masing.
  3. Menyusun program kegiatan dalam rangka perwujudan Silaturahim Takmir Masjid.
  4. Melaksanakan program kegiatan dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan.

Pembayaran PKH Tahap IV

PKH

Kemarin (Selasa, 31/1/2017) bertempat di Pendopo Kecamatan Sleman dilaksanakan Pembayaran PKH Tahap IV Tahun 2016 bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Peserta Program Keluarga Harapan (PKH). Kegiatan ini berlangsung berkat kerjasama antara Pendamping PKH Kecamatan Sleman dengan Bank BTN. Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.00 s/d 15.00 WIB, meliputi pembagian KPM untuk masyarakat di 5 Desa.

Alokasi pembagian sebagai berikut :

Desa
Jumlah KPM
Alokasi Bantuan
Caturharjo
112
Rp 37.050.000,-
Triharjo
109
Rp 33.400.000,-
Pandowoharjo
64
Rp 22.700.000,-
Trimulyo
78
Rp 26.425.000,-
Tridadi
50
Rp 15.300.000,-
Total
413
Rp 134.875.000,-