Tips Mencegah Penularan Virus Corona dalam Kegiatan Sehari-hari

Asteroid Raksasa Hampiri Bumi Akhir April 2020

Asteroid Raksasa Hampiri Bumi Akhir April 2020, Akankah Bertabrakan?

Asteroid Raksasa Hampiri Bumi

Badan Antariksa Amerika (NASA) mengeluarkan peringatan bahwa ada asteroid raksasa hampiri Bumi dalam waktu dekat ini.

Sebenarnya, peristiwa ini bukanlah kali pertama terjadi. Sebelumnya juga ada peringatan serupa saat pasca Natal tahun 2019 kemarin.

Meski sudah sering terjadi, namun bukan berarti bisa diabaikan begitu saja. Kita tetap harus waspada karena peristiwa seperti ini bisa saja menabrak Bumi.

Tentu kita semua tahu bahwa dampak hantaman asteroid terhadap Bumi sangatlah besar. Bahkan terbukti bisa memusnahkan dinosaurus pada zamannya.

Asteroid Raksasa Hampiri Bumi

Sebagai satu-satunya planet yang menjadi hunian manusia, tentu saja Bumi harus dijaga keselamatannya. Tak hanya melindunginya dari ancaman dalam planet saja, akan tetapi juga luar planet.

Peristiwa asteroid dekati Bumi inilah yang menjadi salah satu ancaman dari luar planet tersebut. Berdasar kabar terbaru, asteroid yang dimaksud kali ini bernama 52768 atau yang juga dikenal 1998 OR2.

Sesuai dengan namanya, asteroid ini ditemukan untuk yang pertama kalinya pada tahun 1998. Dimana di tahun yang sama, asteroid 52768 (1998 OH) juga ditemukan tim NEAT (Near-Earth Asteroid Tracking).

Asteroid ini disebut raksasa bukan tanpa alasan. Ukuran asteroid ini memang jumbo dengan diameter berkisar antara 1,5 sampai 4,1 km.

Dengan ukuran yang begitu besar tersebut, diketahui bahwa asteroid raksasa hampiri Bumi menjelang akhir bulan April nanti, tepatnya pada tanggal 29 April 2020.

Nantinya, asteroid ini akan mendekat dengan jarak sampai 0,04205 unit astronomi. Dimana 1 unit astronomi setara 149,6 juta km dan sebanding dengan jarak rata-rata planet Bumi ke matahari.

Dengan jarak yang sangat dekat tersebut, tak heran jika asteroid 1998 OR2 ini masuk ke dalam Near-Earth Object (NEO).

NEO sendiri adalah kelompok benda luar angkasa yang mendekati Bumi. 1998 OR2 ini juga dinilai berpotensi membahayakan Bumi.

Disebut berbahaya bukan hanya karena lintasannya yang mengarah ke Bumi saja, akan tetapi juga kecepatannya. Sesuai dengan perkiraan NEAT, asteroid 1998 OR2 melintas dengan kecepatan mencapai 31 ribu km per jam.

Melihat ukurannya yang jumbo dengan arah pergerakan yang cepat, tentu akan sangat mengkhawatirkan jika asteroid raksasa hampiri Bumi ini sampai bertabrakan.

Asteroid 1998 OR2 Berpotensi Hantam Bumi?

Sejak tersiar kabar terkait adanya asteroid jumbo yang mengarah ke Bumi, publik bukan hanya merasa panik, akan tetapi juga gencar mencari tahu potensi tabrakannya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh ilmuwan NASA, jika asteroid 1998 OR2 ini benar-benar menabrak Bumi, maka dampaknya akan menciptakan efek global.

Dimana efek kerusakan secara global tersebut juga memungkinkan timbulnya gempa Bumi dan bahkan tsunami. Dampak yang terjadi memang akan sangat mengerikan.

Lantas apakah asteroid 1998 OR2 ini akan menabrak Bumi? Untungnya, hal tersebut tidak akan terjadi. Hal ini sebagaimana yang diperkirakan oleh NASA. Oleh karenanya, kita patut bernafas lega.

Pengamatan Asteroid Raksasa Hampiri Bumi

Walau diperkirakan tak akan menabrak Bumi, namun pengamatan terhadap 1998 OR2 harus terus dilakukan. Pengamatan ini dilakukan sebagai bentuk waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi.

Pengamatan ini sendiri dilakukan dengan memanfaatkan teleskop canggih yang ada di California, tepatnya di Table Mountain Facility Jet Propulsion Laboratory.

Teleskop berteknologi mumpuni ini dirancang sedemikian rupa dengan ukuran 61 cm. Selain digunakan untuk mengamati 1998 OR2, teleskop ini juga berfungsi untuk memantau asteroid 1998 OH.

Tak berhenti di situ saja, teleskop ini ternyata juga berperan penting dalam pengamatan benda antariksa lain yang tengah bergerak mendekati Bumi.

Berkat teleskop ini, ilmuwan tak hanya bisa mendeteksi benda antariksa seperti asteroid raksasa hampiri Bumi saja, akan tetapi juga mempelajari bagaimana orbit dan susunan materialnya.

Masih berkaitan dengan pengamatan benda antariksa dekat Bumi, Steven Pravdo selaku Manajer Proyek NEAT juga menyebut akan menggunakan teknologi lain.

Selain teleskop, pengamatan juga memanfaatkan kamera charge-coupled device (CCD) dengan ukuran besar. Kamera ini nantinya akan dipasang di teleskop sehingga hasil pengamatan yang didapat bisa lebih akurat.

Berkaitan dengan pengamatan yang dilakukan, lembaga antariksa NASA ternyata juga tengah mempelajari bagaimana langkah tepat dalam menghindari tabrakan nantinya.

Sebagai bentuk perlindungan terhadap Bumi, tentu segala upaya yang dilakukan ilmuwan selama ini patut untuk diapresiasi. Perihal kabar asteroid raksasa hampiri Bumi pun, saat ini masih terus diteliti. (R10/HR-Online)(MZ070520).

KEBIJAKAN JAMINAN KESEHATAN KABUPATEN SLEMAN

  • hKEBIJAKAN JAMINAN KESEHATAN
KABUPATEN SLEMAN
Kebijakan Pemerintah
  • Jaminan kesehatan pemerintah dilaksanakan dalam satu Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU No. 40/2004)
  • Kewenangan menyelenggarakan Jaminan Kesehatan Nasioanal (JKN) hanya diberikan kepada BPJS Kesehatan (UU No. 24/2011)
  • Semua penduduk Indonesia sudah harus menjadi peserta JKN paling lambat 1 Januari 2019 (Perpres No. 12 & No. 111 thn 2013)
  • Bupati/walikota diminta segera mengintegrasikan Jamkesda ke SJSN yang diselenggarakan BPJS Kesehatan (SE Mendagri No. 440/3890/SJ)
Kebijakan Pemkab Sleman
(Dasar: Perbup No 110/2016 ttg Pelaks. Perda Kab. Seman No. 11/2010 ttg Jamkesda dlm Sistem JKN)
A. Mengalihkan peserta Jamkesda menjadi peserta JKN di BPJS Kesehatan:
  • Miskin/Rentan Miskin
  • Peserta karena penghargaan atas peran dan jasa yang bersangkutan (Linmas, Kader, Pol PP, Perangkat Desa, dll)
  • Mandiri
B. Mendaftarkan penduduk Sleman Non-Jamkesda untuk menjadi peserta JKN di BPJS Kesehatan
  • Miskin/Rentan Miskin
  • Peserta karena penghargaan atas peran dan jasa yang bersangkutan (Linmas, Kader, Pol PP, Perangkat Desa, dll)
C. Iuran JKN dibayarkan Pemkab Sleman untuk kelas III:
  • Secara periodik & berkelanjutan bagi miskin/rentan miskin/penghargaan
  • Selama kepesertaan Jamkesda aktif bagi peserta mandiri
D. Peserta Jamkesda yg belum bisa diintegrasikan ke JKN, dialihkan ke program lain yg sejenis:
  • Jaring Pengaman Sosial
  • Bapel Jamkesos (khusus miskin/rentan miskin)
E. Pendaftaran & pelayanan kesehatan peserta Jamkesda Mandiri ditutup per 31 Des. 2016
Pelaksanaan Integrasi
(Dasar: PKS Dinas Kesehatan – BPJS Kesehatan Sleman)
  • Data peserta berbasis NIK
  • Kuota 64.931 peserta PBI (miskin/rentan miskin) & 50.250 PBPU (non miskin)
  • Sudah terisi 52.083 PBI & 36.053 PBPU (SK Bupati)
  • Kekurangan peserta akan diisi lewat mekanisme tambah-kurang setiap bulan melalui UPT JPKM:
  • Maks tgl 15 diusulkan ke BPJS (PBPU)
  • Maks tgl 25 diusulkan ke BPJS (PBI)
Masalah Integrasi
  • Kesalahan NIK
  • NIK sama untuk individu yg berbeda (NIK ganda)
  • Kepesertaan Jamkesda ganda (miskin-mandiri)
  • Peserta miskin terlanjur terdaftar sbg peserta JKN Mandiri dan punya tunggakan iuran
  • Penempatan faskes oleh BPJS tidak sesuai domisili
  • Peraturan BPJS yang dirasa terlalu kaku

 
Pemecahan masalah
  • Sosialisasi lintas sektor, lintas program dan masyarakat
  • Koordinasi lintas sektor dan lintas program
  • Mengusulkan pindah Faskes yang sesuai domisili ke BPJS kesehatan
  • Mekaniske tambah kurang mlalui Dinas Sosial Kabupaten Sleman
  • Warga miskin dan rentan miskin yang belum terdaftar diikutkan program Jaring Pengaman Sosial (Dinas Sosial Kabupaten Sleman)
  • Ibu hamil miskin dan tidak punya penjaminan diikutkan program Jaminan Persalinan (DAK NON FISIK 2017)

Data Keagamaan

Jumlah Masjid
:
122 buah
Jumlah Mushola/ Langgar
:
55 buah
Jumlah Gereja Kristen
:
3 buah
Jumah Gereja Katholik
:
9 buah
Jumlah Kapel
:
1 buah
Jumlah Pondok Pesantren
:
15 buah
Jumlah Kyai/ Ustadz
:
57 orang
Jumlah Santri
:
1.050 orang
Jumlah TPA/TPQ
:
122 buah
Jumlah Majelis Taklim
:
21 buah
Jumlah Jamaah
:
1.110 orang
Jumlah Muktamir
:
122 orang
Jumlah Kumpulan Pengajian Umum
:
116 buah

Tuberkololosis Paru (TBC Paru)

Tuberkololosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tubercolosis. Penyakit ini sudah ada sejak jaman dahulu. Saat ini di Indonesia jumlah kematian akibat penyakit TBC masih cukup tinggi sekitar 100.000 orang per tahun.
Kuman TBC dapat menyerang banyak organ tubuh yaitu :
  • Paru (organ yang paling banyak diserang)
  • Selaput otak
  • Kelenjar limfe
  • Tulang
  • Kulit
Penularan
  • Secara langsung melalui udara sewaktu penderita batuk, bersin, atau berbicara
  • Secara tidak langsung melalui dahak dan ludah penderita TBC. Ketika dahak dan ludah mengering, kuman TBC terbawa angin dan terhirup orang lain. Kuman selanjutnya masuk ke dalam tubuh dan bersarang di dalamnya, paling sering di paru-paru namun bisa juga di organ lain seperti tulang, usus, selaput otak, kulit.
Apakah setiap orang yang tertular pasti sakit ?
Tidak selalu. Ada 2 keadaan yang mungkin terjadi pada mereka yang terinfeksi TBC :
  • Jika daya tahan tubuh kuat, kuman tidak berkembang biak melainkan menjadi tidak aktif (“tidur”), yang disebut infeksi TB laten
  • Sebaliknya jika daya tahan tubuh lemah (gizi kurang, lansia, balita, kondisi tertentu : DM, HIV/AIDS) resiko untuk menderita TBC semakin besar.
Gejal Penderita TBC Paru
Gejala Pokok :
  • Batuk berdahak selama 2 minggu/ lebih
Gejala Tambahan :
  • Demam meriang sebulan lebih
  • Sesak nafas dan nyeri dada
  • Berkeringat pada malam hari tanpa kegiatan
  • Pernah mengeluarkan dahak bercampur darah
  • Nafsu makan dan berat badan turun
Pemeriksaan yang harus dilakukan untuk mendiagnosa TBC  :
  • Periksa dahak 3 kali yaitu : Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS)
  • Foto rontgen paru
Pengobatan TBC :
  • Minum obat anti TBC minimal 6 (enam) bulan, dengan didampingi PMO (Pengawas Menelan Obat). Penderita TBC perlu mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang, istirahat cukup, tidak mengkonsumsi minuman beralkohol dan tidak merokok.
Cara Mencegah Penularan TBC
  • Jika penderita batuk, tutuplah mulut dengan sapu tangan bersih (setelah dipakai sapu tangan direndam dengan air sabun)
  • Jangan membuang dahak di sembarang tempat, tampunglah di dalam kaleng/ember yang telah diisi Lysol 5% atau ai sabun.
  • Penderita sebaiknya tidur di kamar terpisah dari anggota keluarga yang lain (terutama untuk 2 bulan pertama pengobatan)
  • Rumah mendapat penerangan alami dari sinar matahari yang masuk melalui jendela atau genting kaca untuk mematikan kuman TBC dan pertukaran udara dapat lancar sehingga jumlah kuman yag ada dalam rumah berkurang.
  • Bayi harus diberikan imunisasi BCG agar lebih kebal terhadap kuman TBC.
Contoh pengobatan TBC Tidak Benar
  • Minum salah satu jenis obat saja
  • Minum obat kurang dari jumlah yang ditetapkan
  • Sering lupa/ tidak minum obat
  • Berhenti minum obat sebelum selesai pengobatan/ obat habis

Sekilas Tentang Program Keluarga Harapan Tahun 2017

Program Keluarga harapan (PKH) adalah program yang memberikan bantuan non tunai bersyarat kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang memenuhi kriteria tertentu.

Manfaat Bantuan

Bantuan yang diberikan kepada KPM yang mengikuti program ini adalah berupa bantuan non tunai sesuai ketentuan yang berlaku. Bantuan sosial non tunai PKH diharapkan dapat mengurangi beban pengeluaran KPM dalam jangka pendek dan memutus rantai kemiskinan dalam jangka panjang, serta dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial anggota keluarga KPM peserta PKH.

Penerima PKH

  • Ibu hamil, maksimal kehamilan ketiga
  • Anak usia di bawah 6 tahun
  • Anak sekolah jenjang pendidikan SD, SMP, SMA
  • Lansia 70 tahun ke atas
  • Penyandang disabilitas berat (cacat berat)

Kewajiban Peserta PKH

  1. Ibu Hamil
  • Pemeriksaan kehamilan sebanyak 4 kali selama kehamilan di faskes
  • Melahirkan oleh tenaga kesehatan di faskes
  • Pemeriksaan kesehatan 2 kali sebelum bayi 2 bulan
  1. Anak Usia di bawah 6 tahun
  • Melakukan imunisasi di faskes
  • Pemeriksaan berat badan setiap bulan di Posyandu balita/ faskes yang tersedia, serta mendapatkan vitamin A
  1. Anak Sekolah
  • Terdaftar di sekolah/ kesetaraan dengan minimal kehadiran 85% di kelas
  1. Lansia 70 tahun ke atas
  • Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan atau pemeriksaan di Posyandu Lansia
  1. Penyandang Disabilitas Berat
  • Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan melalui kunjungan rumah

Sanksi Peserta PKH

Anggota Rumah Tangga
Tidak Memenuhi Kriteria
Ket
1 bulan
2 bulan
3 bulan
Seluruh
10%
10%
10%
100%
Sebagian/ Tanggung Renteng
10%
10%
10%
30%
Ket :
Bagi peserta PKH yang berturut-turut tidak memenuhi komitmen seluruhnya maka bantuan tidak diberikan, tetapi status kepesertaannya masih tetap
Bagi peserta PKH yang sebagian AK (anggota keluarga) tidak memenuhi komitmen maka bantuan dikurangi sebesar 10% setiap bulan dari bantuan pertahap

Verifikasi Komitmen

Peserta PKH akan diverifikasi terkait dengan kewajiban yang dilakukan sesuai komponennya. Verifikasi komitmen peserta PKH dilaksanakan setiap bulan. Hasil verifikasi komitmen menjadi dasar penyaluran bantuan yang diterima peserta PKH.

Ketentuan Bantuan PKH

  • Bantuan tetap sebagaiman SK Menteri Sosial Nomor 23/HUK/2016 berlaku dalam 1 tahun
  • Bantuan komponen peserta PKH diberikan kepada maksimal 3 anggota keluarga sesuai kriteria kepesertaan
  • Bantuan komponen peserta PKH diberikan dengan jumlah nominal terbesar dari komponen kepesertaan

***BANTUAN SOSIAL NON TUNAI PKH DIBAYARKAN 3 BULAN SEKALI***

Strategi Penanggulangan Bencana

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.

Logistik adalah segala sesuatu yang berujud dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia yang terdiri atas sandang, pangan dan papan atau turunannya. Termasuk dalam kategori logistik adalah barang yang habis pakai atau dikonsumsi, misalnya: sembako (sembilan bahan pokok), obat obatan, pakaian dan kelengkapannya, air, tenda, jas tidur dan sebagainya.

 Prinsip Penanggulangan Bencana :

  • Pengurangan Total Risiko Pada Aset Penghidupan
  • Prinsip Kehati-Hatian Pada Setiap Tahapan
  • Diterapkan Secara Utuh, Terpadu Dan Berlanjut
  • Berorientasi Pada Komunitas

Manajemen Bencana :

Seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana. Dirancang untuk memberikan kerangka kerja bagi orang-perorangan atau komunitas yang berisiko terkena bencana untuk menghindari, mengendalikan risiko, mengurangi, menanggulangi maupun memulihkan diri dari dampak bencana

Mitigasi :

Upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana

Bentuk Mitigasi :

  • mitigasi struktural (membuat bangunan tahan gempa, penahan air laut, tanggul sungai dll.)
  • mitigasi non struktural (peraturan, tataruang, pelatihan dan penguatan kapasitas masyarakat dan pemerintah

Kesiapsiagaan :

Upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana, melalui pengorganisasian langkah-langkah yang tepat, efektif dan siap siaga. Misalnya : Penyiapan sarana komunikasi, pos komando dan penyiapan lokasi evakuasi, pusat informasi, pemasangan alat peringatan dini.

Peringatan Dini :

Upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa bencana kemungkinan akan segera terjadi.

Pemberian Peringatan Dini Harus :

  • Menjangkau Masyarakat (Accesible)
  • Segera (Immediate)
  • Tegas Tidak Membingungkan (Coherent)
  • Bersifat Resmi (Official)

Tanggap Darurat :

Upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian serta memberikan bantuan darurat (pangan, sandang, papan, kesehatan, air & sanitasi).

Pemulihan :

Proses pemulihan kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada keadaan semula. Pemulihan dilakukan dengan cara merehabilitasi dan merekontruksi. Contoh upaya yang dilakukan adalah : memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air bersih, pasar puskesmas, dll).

Rehabilitasi:  Upaya langkah yang diambil setelah kejadian bencana untuk membantu masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan fasilitas sosial penting, dan menghidupkan kembali roda perekonomian.

Rekonstruksi: Program jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan kembali aset fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan  kehidupan masyarakat pada kondisi yang lebih baik dari sebelumnya

Klaster Utama Dinas Sosial Dalam Penanggulangan Bencana

  • Klaster Logistik dan Dapur Umum
  • Klaster Shelter dan Penanganan Pengungsi
  • Klaster Psikososial
  • Klaster Pendamping Sosial

Bantuan Bagi Korban Bencana

  1. Pemenuhan Kebutuhan Dasar
    • Permakanan (beras, lauk pauk, makanan siap saji, mie instan, makanan tambahan, droping air bersih)
    • Sandang (pakaian, selimut, sarung)
    • Papan (bahan bangunan rumah, tenda gulung/ terpal)
  2. Perlindungan Sosial
    • Biaya Jaminan Hidup
    • Santunan Kematian
    • Pemulangan dan Pemakaman Orang Terlantar
    • Bantuan Usaha Ekonomi Produktif

POSKO TAGANA DIY

  • Posko TAGANA DIY di Jalan Menur 6, Baciro, Yk (Telp dan Faks 0274-550554)
  • Posko TAGANA GK di Komplek Kampus UGK (Telp. 0274 392003)
  • Posko TAGANA Bantul di Komplek Dinsos Bantul
  • Posko TAGANA Kota Yk di Jalan Batikan, Umbulharjo, Yk
  • Posko TAGANA KP di Komplek Dinsos KP (Telp.0274-774972)
  • Posko TAGANA Sleman di Beran (Telp. 085101618762)

ALUR PERMINTAAN BANTUAN BENCANA ALAM

mekanisme bantuan beras

Instruksi Gubernur DIY No. 5 Tahun 1997 Tentang GPPA

Keputusan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 128 / 44 A Tahun 1982, telah memerintahkan untuk meningkatkan upaya baca tulis Al Qur’an dalam rangka pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari bagi umat Islam. Untuk mengintensifkan usaha pemahaman dan pengamalan isi kandungan Al Qur’an tersebut, Gubernur DIY telah mengeluarkan Instruksi No. 5 Tahun 1997 tentang Gerakan Pemahaman dan Pengamalan Isi Kandungan Al Qur’an (GPPA) bagi umat Islam di Daerah Istimewa Yogyakarta.

  1. Proses Lahirnya Instruksi Gubernur DIY No. 5 Tahun 1997

Secara singkat sebagai berikut :

  1. MTQ, STQ, TKA, TPA yang berkembang di masyarakat asih fokus kepada membaca Al Qur’an, belum sampai pada pemahaman dan pengamalannya.
  2. Pada pembukaan MTQ Tingkat Propinsi DIY pada Maret 1997, di Wates, Gubernur DIY mencanangkan adanya Gerakan Pemahaman dan Pengamalan Isi Kandungan Al Qur’an (GPPA).
  3. Mengacu dan mendasarkan pencanangan GPPA tersebut, maka Kepala Bidang Penerangan Agama Islam Kanwil Departemen Agama Propinsi melakukan lobby dan pendekatan kepada Pemda DIY untuk dapat mengeluarkan Instruksi Gubernur sebagai tindak lanjut pidato pembukaan Gubernur pada pembukaan MTQ, 4 Maret 1997 di Wates Kulon Progo. Akhirnya lahirlah Instruksi Gubernur DIY No. 5 Tahun 1997.

  1. Isi Instruksi Gubernur DIY No. 5 Tahun 1997

Instruksi tersebut ditujukan kepada :

  1. Kepala Kanwil Dep. Agama Prop. DIY untuk menyusun program dan petunjuk pelaksanaan GPPA bagi umat Islam di DIY.
  2. Kepada Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II se propinsi DIY untuk :
  3. Memerintahkan kepada Camat/Kepala Desa/Keurahan di wilayahnya masing-masing untuk :
  • Membentuk Majelis Pengajian Al Qur’an (MPA) dan Majelis Bimbingan Ibadah (MBI) yang dapat menjangkau seluruh umat Islam yang ada di wilayahnya.
  • Membina Majelis Pengajian Al Qur’an dan Majelis Bimbingan Ibadah tersebut sehingga dapat melaksanakan program Gerakan Pemahaman dan Pengamalan Isi Kandungan Al Qur’an.
  1. Mengkoordinasikan pelaksanaan program Gerakan Pemahaman dan Pengamalan Isi Kandungan Al Qur’an dengan lembaga dan instansi terkait.
  2. Melaporkan pelaksanaan instruksi ini kepada Gubernur DIY.

  1. Program GPPA : Program MUI DIY

Pada akhir tahun 2005 dan diteruskan pada awal 2006, dengan prakarsa MUI DIY mencoba mengangkat Instruksi Gubernur ini, dengan mengajukan alokasi anggaran dari APBD Propinsi DIY, dengan menetapkan strategi GPPA sebagai berikut :

  1. Pelaksanaan program GPPA, tersebut berpangkalan/ berbasis di masjid dan keluarga, yang bersifat bottom up (tumbuh dari bawah) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
  2. Pendataan jumlah masjid yang ada di masing-masing wilayah (Propinsi, Kab/Kota, Kecamatan dan Desa).
  3. Pendataan lingkungan masjid menjadi suatu “Peta Dakwah Wilayah Masjid”
  4. Menghimpun kader masjid, sebagai Jamaah Inti Masjid sebanyak 10-20 orang, yang diharapkan menjadi umat pilihan (Khairu Ummah), sebagaimana tersebut dalam Surat Ali Imran : 110), sebagai Majelis Pengajian Al Qur’an (MPA) dan Majelis Bimbingan Ibadah (MBI) yang bertugas memahami, meghayati, mengamalkan dan mendakwahkan isi kandungan Al Qur’an kepada masyarakat beriman dan bertaqwa atau masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
  5. Setiap keluarga/rumah tabngga muslim, dimantapkan statusnya dengan dipasangi stiker “keluarga Muslim, Baity Jannaty” sebagai usaha pemagaran/ perlindungan kepada setiap keluarga muslim untuk tidak diusik oleh umat beragama lain.
  6. Kegiatan penunjang yang bersifat top down (perencanaan dan kegiatan dari atas) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
  7. Menentukan jenis program kegiatan untuk pelaksanaan GPPA ini meliputi :
  • Pembinaan organisasi pelaksanaan dan pengendali
  • Pengadaan sarana dan prasarana kegiatan dan pelatihan
  • Pelatihan pelatih (TOT), yang diharapkan hasilnya dapat melatih ustadz/ustadzah dan dai/daiyah yang ada di setiap masjid
  • Pelatihan ustadz/ustadzah atau dai/daiyah
  • Kegiatan operasional GPPA kepada masyarakat lingkungan masjid oleh ustadz/ustadzah dan dai/daiyah
  1. Pembentukan organisasi pelaksana dan pengendali yang berupa “Jaringan Kerja Pelaksana Program GPPA” di Propinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa, yang terdiri atas gabungan unsur Pemerintah dan Lembaga Swadaya masyarakat.
  2. Mengusahakan dana operasional dari APBD Propinsi maupun Kabupaten/ Kota setiap tahun anggaran, sesuai dengan kemampuan yang ada untuk membiayai 5 program tersebut. Alokasi anggaran APBD Kabupaten/ Kota diharapkan untuk mebiayai kegiatan operasional GPPA kepada masyarakat lingkungan masjid oleh ustadz/ ustadzah dan dai/daiyah
  3. Penetapan program prioritas pelaksanaan Instruksi Gubernur DI Yogyakarta tentang GPPA “Gerakan Dakwah Berbasis Masjid dan keluarga, membina akhlakul karimah, mencegah kemaksiyatan dan paham menyesatkan, membangun masyarakat madani beriman dan bertaqwa”. Program GPPA ini kemudian dalam Musda MUI VI MUI DIY tahun 2006 ditetapkan sebagai program unggulan MUI DI Yogyakarta, yang selanjutnya selalu menjadi tema setiap Rakerda MUI setiap tahun, karena program tersebut sangat komprehensif/ menyeluruh baik (1) pelaksana (2) metode (3) sasaran (4) media dan (5) tujuan akhir yang akan diwujudkan

Artikel : MENGHINDARI PERCERAIAN

MENGHINDARI PERCERAIAN
(Seri Ketahanan Keluarga)
Oleh : Nasrodin Sugiyanto, S.Ag, M.Si
Disampaikan dalam Penyuluhan Keluarga Sakinah di Balai Desa Tridadi, Sleman

 

Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW yang akan mendapat pahala jika kita melakukannya. Sebaliknya bila kita memutuskan untuk mengakhiri pernikahan maka perceraian sendiri adalah suatu hal yang halal untuk dilakukan. Jikalau sepasang suami istri melakukan perceraian, itu akan menggoncangkan ‘Arsy sebegitu dahsyatnya. Oleh karena hal tersebut, Allah membenci perceraian, meski telah dikatakan bahwa hal ini adalah halal. Jagalah keutuhan keluarga.

Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atauk kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban anak-anak mereka. Banyak negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan pasangan itu dapat diminta maju pengadilan.

Gejala rusaknya sebuah keluarga bisa ditengarai antara lain :

  1. Sering terjadi percekcokan/ pertengkaran
  2. Suami atau istri pergi tanpa berita
  3. Suami atau istri tidak tidur di rumah sendiri
  4. Suami atau istri selingkuh
  5. Suami atau istri sering curhat pada orang lain tentang kejelekan pasangannya
  6. Suami atau istri melakukan kegiatan di luar tanpa diketahui pasangannya

Untuk mensikapi hal-hal di atas ada tiga tindakan :

  1. Mendatangi rumahnya bertemu keduanya dan bantu cari solusi persoalannya
  2. Memanggil keduanya ke kantor dan bantu cari solusi persoalannya
  3. Melaporkan ke pihak yang bisa membantu menangani persoalannya

Diantara hal-hal yang kita kaji dari sebuah keluarga adalah kenapa gejala-gejala perceraian itu terjadi. Ada yang tidak beres dalam keluarga itu dan harus diperbaiki. Harus dicek dan diingatkan kembali tentang niat dan tujuan pernikahan mereka, kepastian hukum pernikahan mereka, kematangan jiwa dan raga mereka, dasar keagamaan dan pendidikan mereka, pelaksanaan hak dan kewajiban sebagai suami atau istri.

  1. Niat dan Tujuan

Tidak punya tujuan karena terpaksa atau dipaksa menikah, karena hamil, dijodohkan. Tujuan yang salah. Ingin menyakiti atau menyengsarakan, membuat penderitaan karena balas dendam. Menikah hanya sementara untuk mencari kesenangan sesaat.

  1. Kepastian Hukum

Dalam prakteknya kita sering menerima konsultasi keluarga yang meskipun telah lama hidup bersama dan beranak pinak, ternyata mereka tidak dicatatkan pernikahannya secara peraturan yang berlaku. Salah satu pihak berbuat semaunya tanpa rasa takut akan hukuman.

  1. Kematangan Jiwa dan Raga

Pernikahan pada usia dini dan bawah umur sangat rentan perceraian karena kematangan jiwa dan sikap mental yangmasih rendah. Mereka masih memuja kesenangan tanpa bisa menghadapi persoalan dalam kehidupan keluarga mereka.

  1. Hak dan Kewajiban Suami Istri
  • Suami tidak memberikan nafkah untuk kebutuhan belanja keluarga.
  • Suami atau istri terlalu menghamburkan keluarga.
  • Suami atau istri tidak memberikan pelayanan kebutuhan biologis.
  • Suami tidak memberikan perlindungan, bimbingan, pendidikan agama dan teladan yang baik.
  • Istri menuntut pemberian nafkah di luar kemampuan suami.
  • Istri tidak taat berbakti kepada suami lahir dan batin.
  • Istri tidak bisa mengatur urusan rumah tangga dengan baik.

Bila kita telah mengetahui hasil kajian terhadap persoalan pokok dari keluarga maka dilakukan tindak lanjut untuk menyelesaikannya. Dengan melihat apa persoalannya, bila niat dan tujuan yang salah maka harus diprogram ulang. Bila tentang kepastian hukum bantu supaya ada kepastian hukum. Bila kematangan jiwa rendah maka diberikan pencerahan pendidikan dan pelatihan. Bila tentang hak dan kewajiban suami-istri maka perlu difahamkan dan dilaksanakan.

Kita harus bekerja pada fase-fasenya, yaitu sebelum masuk membentuk bahtera keluarga dan sesudah membangun dan melestarikan keluarga. Fase sebelum pembentukan keluarga adalah pembinaan kepada usia remaja dan usia menikah tentang keluarga dan persoalannya. Fase setelah terbentuk keluarga adalah pembinaan pendidikan dan pelatihan, konsultasi dan penasehatan perkawinan dan keluarga.

Kita bertindak dan berperan bisa sebagai tim khusus atau di luar tim, sesuai dengan profesi dan kedudukan kita masing-masing. Sebagai kepala keluarga kita bina dan jaga keluarga kita. Jadilah idola dan teladan buat anak-anak kita. Tanamkan kedekatan kepada Tuhannya. Tanamkan sopan santun budi pekerti dan akhlak mulia pada mereka. Sambungkan anak-anak kita kepada saudara-saudaranya, kerabat-kerabatnya baik dari keluarga bapaknya atau keluarga ibunya.

Sebagai tokoh masyarakat kita membina dan membimbing masyarakat dengan menjadi anggota masyarakat yang baik. Jadilah panutan buat masyarakat. Lindungi dan lestarikan kegiatan dan forum silaturhami di masyarakat yang bertujuan membangun kehidupan yang baik, kehidupan yang damai sejuk aman dan tentram.

Sebagai pegawai dan pejabat kita buat keputusan dan kebijakan dalam rangka pembinaan dan perlindungan masyarakat. Membuat mengawal dan melaksanakan aturan dan kebijakan sesuai kapasitas kita masing-masing. Maka muncullah pembinaan pra nikah (Suscatin), pembinaan keluarga sakinah (ada KST, DBKS), bimbingan pelestarian perkawinan dan keluarga (BP4).

Adapun kapasitas kita nilai terbesar adalah apa usaha kita untuk bisa berperan dan berpartisipasi membantu menjaga keutuhan sebuah keluarga yang bahagia dunia akherat.